Rupiah Tembus Rp18.000, Pemerintah Disarankan Jiplak China Jaga Stabilitas Keuangan
Hal paling fundamental saat ini adalah menjaga nilai tukar rupiah untuk jangka menengah panjang.
Peneliti Senior Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Ishak Razak mengimbau pemerintah untuk berkaca pada China, yang sukses menjaga nilai tukar mata uangnya tetap stabil. Menyusul kurs rupiah yang tembus rekor hingga Rp18.049 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis, 4 Juni 2026.
Berkaca pada kondisi tersebut, Ishak menilai bahwa hal paling fundamental saat ini adalah menjaga nilai tukar rupiah untuk jangka menengah panjang. Lantaran hal tersebut memang tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat.
"Kita berkaca ke China lah ya. Artinya dia kan relatif stabil, dan pemerintahnya bisa melakukan intervensi pasar. Menjaga agar yuan itu tetap kompetitif, karena mereka cadangan devisanya besar," ujar Ishak di Jakarta, Kamis (4/6).
Ishak mengutarakan, China sukses mengumpulkan cadangan devisa besar dari surplus neraca perdagangan. Ketika angka ekspor lebih besar daripada impor, berkat pertumbuhan industri manufaktur yang solid dalam 2-3 dekade terakhir.
"Itu semestinya yang menjadi concern pemerintah sekarang, bagaimana agar fondasi industri manufaktur domestik ini benar-benar diperkuat," imbuh dia.
Menurut dia, tren pelemahan rupiah yang terjadi berulang-ulang paling banyak dipengaruhi oleh faktor global. Sehingga kondisi tersebut relatif tidak banyak bisa dikontrol oleh pemerintah.
"Yang bisa kita kontrol adalah bagaimana ekonomi domestik ini bisa terus solid. Salah satunya lewat deindustrialisasi yang bisa menjadi fokus pemerintah. Karena ini efeknya akan sangat luas," kata dia.
Kembalikan Kepercayaan Pasar
Pada kesempatan sama Mohammad Ishak Razak turut meminta kepada pemerintah agar bisa mengembalikan kepercayaan pasar. Menyusul nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menembus rekor terbaru di level Rp 18.000.
Menurut dia, optimisme para pelaku pasar untuk berkiprah di pasar domestik jadi hal utama yang perlu dijaga. Khususnya di pasar saham, agar tren arus modal keluar (capital outflow) tidak semakin deras.
"Khususnya investor di pasar modal, ya. Karena bagaimanapun juga yang mempengaruhi secara fluktuatif itu kan di pasar modal, dari pasar saham ataupun di SBN (Surat Berharga Negara)," kata Ishak.
Waspada Kebijakan Ganggu Pasar
Tak hanya itu, ia pun mengimbau pemerintah agar lebih berhati-hati dalam mencetuskan suatu kebijakan yang punya potensi mengganggu perdagangan.
Ishak lantas mengambil contoh pengumuman soal ekspor satu pintu melalui BUMN PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Menurut dia, kebijakan sejenis itu rawan mengusik kenyamanan para investor.
"Kayak kemarin ya, kebijakan seperti Danantara ekspor satu pintu. Menurut kami, kebijakan yang semisal ini ke depannya tidak lagi diumumkan. Karena kemudian menambah ketidakpercayaan atau kestabilan pasar," kata Ishak.