Permintaan konsumen, pengusaha SPBU bakal kurangi tangki BBM premium
Konsumsi pertalite naik hingga mencapai 20,5 persen pada Agustus 2016.
Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) mengaku konsumsi dua bahan bakar yakni pertalite dan pertamax mengalami peningkatan. Respon para pengusaha SPBU ini langsung dilakukan penambahan jumlah nozzle di kedua BBM ini.
"Peningkatan penjualan pertalilte dan pertamax tentunya membuat SPBU harus menyediakan space yang lebih luas kepada konsumen. Kami tidak mungkin membiarkan konsumen harus antre untuk mendapatkan BBM dengan kualitas yang lebih baik," ujar Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Hiswana Migas Wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Banten Syarief Hidayat dalam keterangannya di Jakarta, Senin (12/9).
Syarief mengatakan seiring perubahan pola konsumsi BBM masyarakat melakukan perubahan jumlah nozzle. Jika sebelumnya 70 persen nozzle untuk premium dan sisanya 30 persen untuk nozzle bahan bakar khusus, pertalite dan pertamax series, saat ini telah dirubah menjadi 60 persen nozzle untuk BBK dan 40 persen untuk premium.
"Inisiatif dari kami para pengusaha SPBU setelah melihat animo masyarakat terhadap pertalite dan pertamax. Ini kami diskusikan dengan Pertamina dan disetujui," jelasnya.
Data penyaluran BBM pada periode Agustus 2016 yang sebelumnya dirilis PT Pertamina (Persero) menunjukkan pertalite saat ini telah mengambil porsi sebesar 20,5 persen dari total konsumsi BBM dengan capaian sebesar 20.000 kiloliter (kl) per hari atau naik 462 persen dari konsumsi Januari 2016 sebanyak 4.500 kl.
Kenaikan konsumsi juga dialami pertamax, mencapai 15,8 persen dengan penyerapan sekitar 15.000 kl per hari atau naik 226 persen dari konsumsi pada Januari 2016 yakni 5.000 kl. Sementara itu, penyaluran BBM jenis premium turun 13 persen dari 70.000 kl perhari pada awal 2016 menjadi 56.000 kl atau 63,4 persen dari total konsumsi BBM.
Sejak pertalite diluncurkan tahun lalu, kata Syarief, penurunan konsumsi premium memang dirasakan, khususnya mulai tahun ini. Selain faktor harga, pemahaman masyarakat bahwa premium dengan RON (research octane number) 88 bukanlah BBM yang sesuai dengan kondisi kendaraan saat ini. Menurutnya, saat ini penjualan pertalite stabil dan justru terjadi peningkatan pada penjualan pertamax, termasuk penjualan pertamax turbo yang baru diluncurkan Pertamina untuk menggantikan pertamax plus.
"Dengan harga yang sama dengan pertamax plus konsumen diuntungkan karena mendapat produk yang kualitasnya lebih tinggi. RON pertamax turbo kan 98, sedangkan pertamax turbo 95," tegasnya.
Menurut Syarief, seiring dengan tren konsumsi masyarakat yang lebih memilih pertalite dan pertamax, langkah tepat apabila dilakukan pengurangan pasokan premium. Bukan dengan tujuan mengurangi beban subsidi pemerintah, namun untuk mendorong masyarakat menggunakan BBM yang lebih baik.
"Pemerintah juga harus menetapkan rencana yang jelas sehubungan dengan konsumsi energi ke depan. Apalagi kuaalitas BBM dengan RON 88 sudah tidak layak untuk mesin kendaraan saat ini," tambahnya.
Hal senada diungkapkan Andy Noorsaman Soomeng, Kepala Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas. Menurut Andy, pengurangan nozzle premium dan penambahan nozzle pertalite dan pertamax merupakan masalah suplai dan demand. Andy Sommeng mengatakan masyarakat sudah mengerti bahan bakar yang efisien dan ramah lingkungan sehingga performa mesin kendaraan tetap terjaga baik dan lingkungan juga kurang tercemar.
Dengan sedikit harga lebih tinggi tetapi terjangkau akan mendapat manfaat yang lebih banyak, masyarakat tetap akan memilih itu. "Jadi ini adalah saat yang tepat untuk bergeser ke BBM yang berkualitas lebih baik, efisien dan ramah lingkungan," kata Andy.
Baca juga:
Bos Kadin dan Apindo beda pendapat soal holding BUMN Migas
Anak usaha Pertamina jual 8 blok gasifikasi batu bara
Faisal Basri: Menteri BUMN asal bunyi harga gas murah karena holding
Produksi minyak anak usaha Pertamina lampaui target
Pengadaan barang proyek Rp 13 T milik Pertamina dimulai Oktober 2016
ESDM: Pertamina tak bisa paksa masyarakat pakai Pertalite
Pertamina dinilai paling siap garap proyek PLTU Jawa 1