Pemerintah tak setuju harga rumah murah naik jadi Rp 250 juta
Pemerintah mempersilakan REI menaikkan harga rumah asalkan rumah untuk kalangan menengah ke atas.
Pemerintah tak sepakat dengan usulan Real Estate Indonesia (REI) menaikkan harga rumah subsidi dalam proyek Sejuta Rumah bagi masyarakat berpenghasilan murah (MBR) menjadi kisaran Rp 250 juta. Usulan itu dianggap tidak sesuai rencana pemerintah.
Direktorat Jenderal Penyediaan Rumah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) Syarif Burhanudin meminta REI memikirkan ulang usulan itu. Pihaknya berjanji tetap mengutamakan MBR dapat hunian layak.
"Teman-teman REI usulkan dinaikan, kami lagi negosiasi dengan mereka juga. Pemerintah berharap MBR tetap dijadikan prioritas," kata Burhanudin di Jakarta, Kamis (17/9).
Rumah murah diperuntukkan bagi keluarga dengan total penghasilan Rp 7 juta per bulan. Nantinya mereka akan diberikan kesempatan membayar uang muka 1 persen dari harga rumah, dengan bunga cicilan 5 persen tiap bulannya. Kemudahan lain yang ditawarkan, waktu kredit menjadi 20 tahun dari sebelumnya 15 tahun.
"Kalau mau dinaikkan dari harga yang ditetapkan pemerintah maka tentu targetnya beda," jelasnya.
Sesungguhnya pihaknya tak mempermasalahkan REI mengusulkan menaikkan harga jual rumah. Asalkan menyasar pasar perumahan bagi kalangan menengah ke atas.
"Saya kira boleh saja dinaikkan tapi untuk masyarakat di atas (penghasilan) Rp 7 juta," ungkapnya.
Baca juga:
Menteri Basuki bakal naikkan harga rumah subsidi jadi Rp 250 juta
Ada sejak 1950, proyek sejuta rumah murah mangkrak 6,5 dekade
Menteri PU-Pera sebut anggaran subsidi rumah sudah habis
Ekonomi melemah, pemerintah komitmen bangun 1 juta rumah murah
Pengembang mengeluh ada 20-40 izin bangun perumahan
Pembatasan subsidi listrik dinilai hambat proyek 1 juta rumah murah