OJK: Saham Syariah Indonesia Kini Lebih Kompetitif dan Tahan Gejolak
Perkembangan pasar modal syariah dalam 15 tahun terakhir telah mengalami transformasi besar.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pasar modal syariah Indonesia semakin menunjukkan daya saingnya di tengah tekanan ekonomi global dan gejolak pasar keuangan. Instrumen saham syariah kini tidak lagi dipandang hanya sebagai pilihan investasi berbasis prinsip halal, tetapi juga dianggap memiliki ketahanan dan potensi keuntungan yang kompetitif.
Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Henry Rialdi, mengatakan perkembangan pasar modal syariah dalam 15 tahun terakhir telah mengalami transformasi besar.
“Pasar modal syariah telah bertransformasi menjadi ekosistem yang solid dengan basis investor yang tumbuh tidak hanya dalam kuantitas tetapi juga dalam kualitas,” kata Henry dalam acara Elevate: IFN Indonesia Forum dan Sharia Investment Week (SIW) 2026, di Main Hall BEI, Jakarta, Rabu (20/5).
Menurut dia, ketahanan pasar modal syariah terlihat dari performanya di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan berbagai tantangan pasar domestik sepanjang 2026.
Hingga akhir April 2026, kapitalisasi pasar saham syariah tercatat mencapai sekitar Rp 7.225 triliun atau tumbuh lebih dari 5% secara tahunan. Nilai tersebut mewakili hampir 70% dari total kapitalisasi pasar saham Indonesia.
“Hal ini dibuktikan dengan ketahanan pasar modal syariah Indonesia di tengah tekanan global, yang diakibatkan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik serta isu-isu pasar domestik saat ini. Hingga akhir April 2026, kapitalisasi pasar saham syariah mencapai sekitar Rp 7.225 triliun,” ujar dia.
Kinerja ISSI Melonjak 17%
Selain dari sisi kapitalisasi pasar, kinerja indeks saham syariah juga menunjukkan tren positif. Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) tumbuh sekitar 17% secara tahunan hingga akhir April 2026.
Aktivitas perdagangan saham syariah pun meningkat tajam. Nilai transaksi rata-rata saham syariah mencapai Rp 16,4 triliun atau melonjak sekitar 147% dibandingkan April 2025. Sementara itu, volume perdagangan rata-rata saham syariah mencapai 30,8 miliar saham. Angka itu setara dengan sekitar 67,8% dari total volume perdagangan rata-rata seluruh pasar saham Indonesia.
“Yang lebih menggembirakan lagi, per April 2026, nilai transaksi rata-rata saham Syariah yang tercermin dalam SSI mencapai Rp 16,4 triliun, tumbuh sekitar 147% year-on-year dibandingkan April 2025, dengan volume perdagangan rata-rata mencapai 30,8 miliar saham, atau 67,8% dari volume perdagangan rata-rata di seluruh pasar saham,” kata dia.
Investor dan Reksa Dana Syariah Terus Bertambah
Pertumbuhan pasar modal syariah juga tercermin dari meningkatnya jumlah investor. Hingga Maret 2026, jumlah investor pemilik efek syariah telah melampaui empat juta investor atau tumbuh 35,25% secara tahunan.
Industri reksa dana syariah turut mencatat pertumbuhan tinggi. Nilai aset bersih reksa dana syariah mencapai Rp 84,42 triliun atau naik 53,65% secara tahunan. Sedangkan sukuk korporasi yang beredar tumbuh 47,4% menjadi Rp 92,8 triliun dengan pangsa pasar mencapai 16,6% dari total surat utang dan sukuk yang beredar.
“Hal ini menunjukkan bahwa instrumen Syariah tidak hanya menawarkan prinsip halal, kepatuhan, dan keadilan, tetapi juga daya saing, ketahanan, dan potensi pengembalian yang menarik, baik di dalam negeri maupun global,” pungkasnya.