Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah, Kini Ditutup di Level Rp17.880 per USD
Senin depan yang bertepatan dengan libur nasional, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan sore ini, Jumat (29/5). Rupiah turun 35 poin ke level Rp17.880 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.845 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, mata uang rupiah sempat melemah hingga 55 poin.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah di level Rp17.880 per USD dibanding penutupan sebelumnya di level Rp17.845," kata Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi kepada Media, Jumat (29/5).
Sementara untuk perdagangan Senin depan yang bertepatan dengan libur nasional, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.880 hingga Rp17.940 per dolar AS. Sedangkan untuk pergerakan sepekan, rupiah diperkirakan berada pada rentang Rp17.800 sampai Rp18.100 per dolar AS.
Ia mengatakan, pelemahan rupiah masih dipengaruhi sentimen global, terutama terkait perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta ekspektasi kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Dari faktor eksternal, prospek kesepakatan damai di kawasan Timur Tengah mulai mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global. Kondisi ini memunculkan harapan aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz dapat kembali normal secara bertahap.
Meski demikian, lalu lintas pengiriman di jalur strategis tersebut masih berada di bawah level sebelum konflik, sehingga premi risiko geopolitik tetap membayangi pasar minyak dunia.
Harga minyak sendiri bergerak sangat fluktuatif dalam beberapa sesi terakhir seiring pasar merespons berbagai perkembangan terkait negosiasi gencatan senjata. Harga minyak sempat menguat setelah muncul laporan mengenai pertukaran militer baru antara AS dan Iran. Namun, penguatan tersebut kembali memudar setelah optimisme diplomatik muncul di pasar.
"Minyak mentah sempat pulih pada hari Kamis setelah laporan tentang pertukaran militer baru antara pasukan AS dan Iran, meskipun kenaikan tersebut memudar kemudian karena optimisme diplomatik muncul kembali," ujarnya.
Kondisi Makroekonomi AS
Selain faktor geopolitik, investor juga mencermati kondisi makroekonomi Amerika Serikat. Data inflasi AS menunjukkan tekanan harga masih cukup tinggi. Inflasi pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) tercatat lebih tinggi dari perkiraan pasar, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal I-2026 tercatat melambat. Produk domestik bruto (PDB) AS hanya tumbuh 1,6 persen, lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumnya sebesar 2 persen, berdasarkan data Biro Analisis Ekonomi AS.
"Pada saat yang sama, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa Klaim Pengangguran Awal meningkat menjadi 215.000 untuk pekan yang berakhir pada 23 Mei, melampaui perkiraan 211.000," ujarnya.
Faktor Internal
Kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang menahan suku bunganya di level tinggi memicu larinya arus modal asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Investor cenderung memindahkan asetnya ke instrumen berisiko rendah di AS (seperti obligasi) yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
Kemudian, prospek anggaran dan pengeluaran negara yang ketat, serta kekhawatiran defisit anggaran menjadi sorotan lembaga pemeringkat kredit global seperti S&P Global, Modyst dan Fith Rating, yang turut membebani kepercayaan pasar.
Tingginya harga minyak global meningkatkan biaya impor energi Indonesia, yang kemudian memicu lonjakan permintaan valuta asing (dolar AS) untuk pembayaran impor, sehingga berdampak terhadap melemahnya surplus neraca perdagangan serta ekspor yang melambat membuat pasokan dolar AS di pasar domestik menjadi lebih terbatas.
"Pelemahan rupiah beberapa waktu terakhir terjadi bersamaan dengan tekanan di pasar saham dan obligasi, termasuk akibat sentimen MSCI, kekhawatiran terhadap defisit fiskal, dan kenaikan imbal hasil SBN," pungkasnya.