Meneropong Harga Emas Dunia di Tengah Konflik Timur Tengah
Emas kontrak Juni tercatat naik tipis USD 1,60 ke level USD 4.725,00, sementara perak kontrak Mei menguat USD 0,316 ke USD 75,85.
Harga emas bergerak mendekati stabil pada perdagangan awal Amerika Serikat, Jumat (24/4) seiring pelaku pasar menahan posisi sambil mencermati perkembangan geopolitik global. Mengutip laman Kitco.com, Sabtu (25/4/202) emas kontrak Juni tercatat naik tipis USD 1,60 ke level USD 4.725,00, sementara perak kontrak Mei menguat USD 0,316 ke USD 75,85.
Kondisi ini mencerminkan sikap wait and see investor menjelang akhir pekan, terutama di tengah ketidakpastian konflik Timur Tengah dan dinamika ekonomi global yang terus berkembang.
Perkembangan konflik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang menahan pergerakan harga emas. Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui blokade angkatan laut, dengan tujuan memaksa Teheran menyepakati tuntutan AS di meja perundingan.
Presiden AS, Donald Trump, bahkan memerintahkan militer untuk menindak tegas kapal yang diduga memasang ranjau di Selat Hormuz. Langkah ini disebut sebagai upaya strategis untuk menekan ekspor minyak Iran, yang merupakan sumber utama pendapatan negara tersebut.
Di sisi lain, terdapat sedikit sinyal positif dengan rencana perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon selama tiga minggu. Meski demikian, ketidakpastian masih tinggi sehingga investor cenderung menahan transaksi besar di pasar logam mulia.
Lonjakan Harga Energi Picu Risiko Inflasi Global
Dampak konflik juga mulai merembet ke sektor ekonomi global, terutama melalui kenaikan harga energi. Harga minyak mentah dunia saat ini berada di kisaran USD 97,50 per barel, yang meningkatkan biaya produksi di berbagai negara.
Kenaikan biaya tersebut mulai tercermin di China, di mana eksportir menaikkan harga barang, khususnya produk berbasis turunan minyak seperti plastik dan bahan kimia. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa inflasi global dapat kembali meningkat di atas 3% pada 2026.
Situasi ini menjadi faktor pendukung bagi emas sebagai aset lindung nilai (safe haven), meskipun untuk saat ini pergerakannya masih tertahan karena pasar menunggu arah kebijakan dan perkembangan konflik lebih lanjut.
Sentimen Pasar Beragam
Di tengah ketidakpastian, sebagian investor mulai kembali mengambil risiko melalui strategi carry trade di pasar mata uang. Strategi ini memanfaatkan perbedaan suku bunga antarnegara, yang kini kembali menarik seiring meredanya volatilitas pasar.
Gencatan senjata sementara di Timur Tengah turut membantu menenangkan pasar keuangan global, mendorong minat investor terhadap aset berisiko. Hal ini terlihat dari stabilnya pasar obligasi AS dengan imbal hasil Treasury 10 tahun di kisaran 4,33%, serta melemahnya indeks dolar AS.
Selain itu, hubungan Amerika Serikat dan China juga menunjukkan sinyal perbaikan menjelang rencana pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping pada pertengahan Mei, yang turut memberi sentimen positif ke pasar.