Lima Tahun Berjuang, Ratusan Surat Lamaran Kerja Dikirim tapi Masih Menganggur
Rasa kesal dan frustrasi seketika menyelimuti dirinya. Penolakan itu bukanlah yang pertama, namun tetap terasa menyakitkan.
Ama hanya bisa menghela napas panjang saat membuka email yang masuk pagi itu. Harapan yang sempat tumbuh kembali kandas ketika dia membaca isi pesan tersebut, penolakan dari perusahaan tempat dia melamar kerja.
Rasa kesal dan frustrasi seketika menyelimuti dirinya. Penolakan itu bukanlah yang pertama, namun tetap terasa menyakitkan.
Kesedihan itu terasa semakin dalam karena hampir lima tahun terakhir, sejak lulus kuliah pada 2020, Ama belum juga mendapatkan pekerjaan tetap.
"Ya minimal jadi karyawan swasta," ucap Ama kepada merdeka.com, Rabu (4/6).
Dengan suara berat dan mata yang tampak letih, Ama mulai menceritakan perjalanannya mencari pekerjaan sejak lulus kuliah. Dia mengaku telah mengirimkan puluhan bahkan ratusan lamaran kerja ke berbagai perusahaan yang membuka lowongan.
Namun, nyaris semua berujung tanpa jawaban, atau sekadar balasan otomatis yang berakhir dengan penolakan. Untuk memperkuat ucapannya, dia bahkan menunjukkan isi kotak masuk emailnya dan beberapa aplikasi pencari kerja.
"Nih liat yaaa," katanya lirih sambil menunjukkan pesan-pesan lamaran yang pernah dikirim.
Tak hanya mengandalkan pengiriman lamaran lewat email atau platform daring, Ama juga aktif mengikuti berbagai job fair, baik yang diselenggarakan di dekat rumah maupun di wilayah lain.
"Waktu itu bawa lembaran CV gitu di amplop coklat untuk ikut job fair aja. Sumpek banyak orang, ya gimana banyak yang mencari kerja bukan aku aja," jelasnya.
Amplop Coklat Jadi Tumpukan Sia-Sia
Ama menyebut amplop coklat yang dia bawa ke berbagai job fair kini hanya menjadi tumpukan sia-sia di kamarnya. “Muak banget, di kamar ku banyak amplop-amplop coklat, tapi ya susah,” tambahnya.
Menurut Ama, mencari kerja di Indonesia sangat sulit. Dia merasa sistem rekrutmen tidak berpihak pada para pencari kerja seperti dirinya.
"Selain dari patokan umur, pengalaman kerja, dan harus fresh graduate tapi di paling bawah min pengalaman 1–2 tahun di bidang tersebut lebih didahulukan," keluhnya.
Padahal, Ama sudah memiliki sejumlah pengalaman, baik dari magang maupun pekerjaan freelance. Sayangnya, pengalaman tersebut tampaknya belum cukup untuk meyakinkan HRD perusahaan yang ia lamar.
"Nggak tau tuh kenapa, padahal sudah ada pengalaman," timpalnya.
Tak hanya itu, Ama pernah mencoba mengikuti kiat-kiat agar CV dan interview bisa lolos dan diterima kerja. Dia juga beberapa saran yang viral di TikTok, namun tetap saja tidak berhasil lolos seleksi kerja. Dia pun merasa bingung apakah yang salah ada pada cara penerapannya atau justru karena dirinya memang tidak sesuai dengan kriteria yang dicari perusahaan.
"Waktu itu aku sudah sampai ikut tips-tips dari salah satu influencer di TikTok. Tapi tetep ngga lolos. Nggak tau apanya yang salah dengan cara aku ikutim atau memang aku yang nggak kompatibel gitu," terangnya.
Pengalaman Kerja Jadi Freelance
Selain itu, dia menyebutkan beberapa pekerjaan freelance yang pernah dijalani, seperti menjadi SEO content writer, mengajar les anak-anak, menulis artikel, hingga menjadi SPG di salah satu toko fashion.
"Dulu pernah freelance di store baju gitu, gantiin orang selama tiga bulan aja, ya nggak diperpanjang. Kan emang cuma gantiin sementara saja. Ya gitu dah dilakoni aja semuanya," akunya.
Kini, di usia 27 tahun, Ama merasa gagal memenuhi ekspektasi dirinya sendiri dan keluarganya. Alih-alih bisa menghasilkan pendapatan dan membantu orang tua, dia justru merasa menjadi beban di rumah.
"Asli, ini susah banget (cari kerja), maunya apa deh ya perusahaan, aku nggak dapat terus. Sudah sampai tahap interview, eh taunya menghilang nggak ada kabar. Kan inginnya mah bantu keluarga," keluhnya.
Ama bahkan sempat mencoba peruntungan melalui koneksi orang dalam. Teman dekatnya pernah menawarkan posisi sebagai digital marketing di sebuah perusahaan yang kabarnya tengah membutuhkan banyak tenaga kerja. Karena koneksi itu, dia pun lantas berharap bisa mempermudah jalannya, namun hasilnya tetap nihil.
"Pernah dapat tawaran dari temen deket. Dia ngasih loker sebagai digital marketing. Terus pas apply, tau-taunya nggak ada kabar. Padahal temenku bilang perusahaannya lagi butuh banget orang," curhatnya.
Meski kecewa, Ama tidak menutup kemungkinan untuk mencoba lagi jika ada tawaran dari jalur koneksi. Menurutnya, di tengah situasi yang serba sulit, segala peluang layak dicoba.
"Banyak pasti yang berhasil ya pakai koneksi itu. Cuma pas aku, kayanya emang bukan rezeki. Cuma, jika ada lagi tawaran ordal, dan kepepet banget ambil aja lah," Ama mengakhiri.