Kurs Rupiah Sempat Menguat saat Libur, Ternyata Ini Faktor Pendorongnya
Ibrahim mengatakan, penguatan rupiah yang terjadi pada perdagangan kemarin didorong oleh sentimen positif dari penerapan aturan baru DHE.
Nilai tukar rupiah berhasil mencatat penguatan pada perdagangan Senin (1/6) meski aktivitas pasar domestik berlangsung di tengah periode libur. Mata uang rupiah ditutup menguat ke level R 17.805 per dolar Amerika Serikat (AS), rebound setelah pada akhir pekan sebelumnya berada di posisi Rp17.881 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah kali ini tidak terlepas dari implementasi kebijakan baru terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang mewajibkan dana hasil ekspor ditempatkan di perbankan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
"Yang membuat Rupiah Senin (1/6) mengalami penguatan pada saat libur, itu adalah tentang masalah penerapan aturan baru DHE yang harus terparkir di perbankan Himbara. Ini yang cukup bagus," kata Ibrahim kepada Liputan6.com, Selasa (2/6).
Ibrahim mengatakan, penguatan rupiah yang terjadi pada perdagangan kemarin didorong oleh sentimen positif dari penerapan aturan baru DHE. Kebijakan tersebut diyakini mampu meningkatkan pasokan valuta asing di dalam negeri sehingga membantu menopang pergerakan rupiah.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pada perdagangan hari Senin kemarin dolar AS sempat mengalami pelemahan. Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama karena mata uang Negeri Paman Sam kembali mendapatkan dukungan sehingga mampu berbalik menguat.
"Tetapi kalau saya lihat bahwa dalam perdagangan kemarin sebenarnya dolar itu menguat, terjadi give up. Sempat juga tadi mengalami pelemahan di 35 poin, tetapi langsung kembali menguat bisa saja. DHE ini sangat berpengaruh, walaupun nanti secara teknisnya saya belum tahu," ujarnya.
Sentimen Global Masih Mengancam Pergerakan Rupiah
Di balik penguatan yang terjadi kemarin, Ibrahim mengingatkan bahwa tekanan eksternal masih menjadi risiko utama bagi rupiah. Saat ini perhatian pelaku pasar global tertuju pada perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran, khususnya terkait nota kesepahaman mengenai senjata dan isu uranium.
Menurut Ibrahim, pasar masih menunggu arah kebijakan yang akan diambil oleh Presiden AS Donald Trump terhadap kesepakatan tersebut. Ketidakpastian ini berpotensi memicu peningkatan volatilitas di pasar keuangan global.
Ia memperkirakan, kemungkinan nota kesepahaman antara kedua negara tersebut akan menghadapi penolakan dari pihak Amerika Serikat. Jika skenario tersebut terjadi, sentimen risiko global dapat kembali meningkat.
"Kemungkinan besar nota kesepahaman antara kedua negara ini akan ditolak oleh Amerika. Dan ini yang membuat Rupiah ini kemungkinan dalam perdagangan besok, di hari Selasa pada saat pembukaan pasar di Indonesia, kemungkinan besar akan kembali mengalami pelemahan," pungkasnya.