Kolaborasi Kementan dan ITS Perkuat Hilirisasi Energi dan Alsintan Nasional untuk Kemandirian Teknologi
Kementerian Pertanian (Kementan) dan ITS memperkuat kolaborasi hilirisasi energi dan alsintan nasional. Sinergi ini dorong kemandirian teknologi dan ketahanan pangan berbasis inovasi dalam negeri serta mengurangi ketergantungan impor.
Kementerian Pertanian (Kementan) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya resmi memperkuat kolaborasi strategis. Sinergi ini berfokus pada hilirisasi energi dan alat mesin pertanian (alsintan) nasional. Tujuan utamanya adalah mendorong kemandirian teknologi serta ketahanan pangan Indonesia berbasis inovasi dalam negeri.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan pentingnya kerja sama ini saat menghadiri Wisuda ke-133 ITS di Surabaya, Minggu (19/4). Ia menegaskan bahwa ITS memiliki solusi inovatif yang sangat dibutuhkan pemerintah saat ini. Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat transformasi pertanian menuju sistem yang lebih modern dan efisien.
Amran menekankan bahwa Indonesia harus mampu mandiri dalam pengembangan teknologi pertanian. Ketergantungan pada impor teknologi harus diminimalisir demi kedaulatan pangan. ITS dinilai sangat strategis dengan berbagai inovasi relevan untuk sektor pertanian dan energi.
Sinergi Pemerintah dan Perguruan Tinggi Dorong Kemandirian Teknologi
Mentan Andi Amran Sulaiman menggarisbawahi urgensi sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi negeri (PTN) untuk memajukan sektor pertanian. Menurutnya, ITS memiliki semua solusi yang pemerintah butuhkan dari sektor pertanian. Transformasi pertanian menuju sistem modern memerlukan dukungan inovasi dari berbagai pihak.
Kemandirian teknologi pertanian menjadi fokus utama dalam agenda pemerintah saat ini. Indonesia tidak boleh lagi bergantung pada impor teknologi pertanian dari luar negeri. Pengembangan inovasi dalam negeri adalah kunci untuk mencapai kedaulatan pangan yang berkelanjutan.
Kolaborasi dengan ITS dianggap sangat strategis karena kampus tersebut dikenal memiliki beragam inovasi. Inovasi-inovasi tersebut relevan dengan kebutuhan mendesak di sektor pertanian dan energi. Hal ini menciptakan landasan kuat untuk pengembangan teknologi yang aplikatif dan bermanfaat langsung bagi petani.
Inovasi Unggulan ITS untuk Sektor Pertanian dan Energi
Kementan bersama ITS telah menyepakati beberapa proyek hilirisasi alat pertanian dan energi yang inovatif. Salah satunya adalah pengembangan bensin sawit (Benwit) yang berpotensi besar mengurangi impor bahan bakar fosil. Benwit merupakan produk berbahan baku kelapa sawit atau crude palm oil (CPO).
Uji coba bio-gasoline Benwit menunjukkan hasil menjanjikan, mampu mencapai campuran 70 persen (E70) tanpa perubahan signifikan pada mesin kendaraan. Inovasi ini diketuai oleh dosen Teknik Material dan Metalurgi ITS Prof Dr Eng Hosta Ardhyananta ST MSc. Jika dikawal dengan baik, Benwit dapat mewujudkan kemandirian energi nasional.
Selain energi, ITS juga mengembangkan alat panjat kelapa Moto Climber ITS (MOCITS) yang telah dipesan Kementan sebanyak 10 unit. MOCITS dirancang untuk meningkatkan keselamatan dan efisiensi petani kelapa. Ada pula inovasi perahu traktor listrik yang dirancang khusus untuk lahan rawa, menunjukkan adaptasi teknologi terhadap kondisi geografis Indonesia.
Potensi Ekonomi dan Dukungan Pengembangan Riset
Mentan Amran melihat potensi hilirisasi kelapa dan sawit sangat besar, dengan nilai ekonomi yang dapat mencapai Rp10 ribu triliun. Pemanfaatan optimal dari hulu hingga hilir dapat menghasilkan berbagai produk turunan. Produk seperti air kelapa, minyak kelapa murni, hingga susu kelapa memiliki permintaan ekspor yang tinggi.
Untuk mendukung pengembangan dan distribusi hasil riset, ITS juga telah menandatangani nota kesepahaman dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV. PTPN IV merupakan badan usaha milik negara (BUMN) di sektor agribisnis perkebunan. Kemitraan ini diharapkan mempercepat komersialisasi inovasi ITS.
Amran mendorong peneliti ITS untuk segera mematenkan inovasi-inovasi tersebut agar dapat dikembangkan lebih lanjut dan dimanfaatkan secara luas. Ia menyatakan, jika produk ini berhasil 100 persen setelah uji coba pengembangan, akan diteruskan kepada Bapak Presiden. Hal ini bertujuan agar distribusi dapat segera dilakukan untuk kemaslahatan masyarakat luas.
Rektor ITS Prof Bambang Pramujati menegaskan komitmen kampus dalam menghasilkan inovasi sesuai kebutuhan industri dan masyarakat. Kolaborasi dengan pemerintah adalah kunci untuk mewujudkan produk inovasi yang berdampak nyata. ITS akan terus berupaya menciptakan solusi yang relevan dan aplikatif.
Sumber: AntaraNews