Kementan Genjot Pemerataan Produksi Ayam dan Telur di Luar Jawa, Jaga Stabilitas Pasokan Nasional
Kementerian Pertanian serius dorong Pemerataan Produksi Ayam dan Telur di luar Jawa. Langkah ini bertujuan menekan disparitas harga dan menjamin ketersediaan pasokan protein hewani nasional.
Kementerian Pertanian (Kementan) secara serius menggarap strategi pemerataan produksi daging ayam dan telur di wilayah luar Pulau Jawa. Langkah ini diambil guna mengatasi konsentrasi produksi yang selama ini terpusat, sekaligus menekan disparitas harga komoditas penting tersebut. Inisiatif ini diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan protein hewani secara nasional.
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, melalui Dirjen Agung Suganda, menegaskan pentingnya upaya ini. "Pemerintah sekarang mendorong pemerataan produksi daging ayam dan telur di luar Pulau Jawa," ujarnya dalam sebuah sarasehan di Fakultas Peternakan UGM, Sleman, Yogyakarta, pada Sabtu (22/11).
Pemerataan ini menjadi krusial mengingat sebagian besar produksi ayam dan telur saat ini masih didominasi oleh Pulau Jawa. Dengan demikian, program ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem peternakan yang lebih seimbang dan mandiri di berbagai daerah di Indonesia.
Tantangan Produksi dan Disparitas Harga Unggas Nasional
Produksi telur nasional saat ini mencapai sekitar 6,2 juta ton per tahun, sementara daging ayam mencapai 3,8 juta ton per tahun, jumlah yang secara keseluruhan mencukupi kebutuhan domestik. Meskipun demikian, fakta menunjukkan bahwa sekitar 63 persen dari total produksi kedua komoditas ini masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Hal ini disebabkan oleh ekosistem peternakan yang telah berkembang lebih dulu dan mapan di wilayah tersebut.
Konsentrasi produksi di satu wilayah ini menimbulkan tantangan serius, terutama terkait disparitas harga di tingkat konsumen. Dirjen Agung Suganda mencontohkan, rata-rata harga daging ayam nasional berada di kisaran Rp38.000 per kg, masih di bawah harga acuan pemerintah sebesar Rp40.000 per kg. Namun, untuk telur, harganya sedikit melebihi harga acuan, mencapai sekitar Rp30.300 secara nasional.
Disparitas ini semakin terasa di beberapa daerah, khususnya di Indonesia Timur, di mana harga telur di tingkat konsumen seringkali berada di atas Rp30.000. Ironisnya, di sisi lain, harga telur di tingkat peternak justru masih berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah, yaitu Rp26.500 per kg untuk telur dan Rp25.500 per kg untuk ayam hidup. Kondisi ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan yang perlu segera diatasi.
Strategi Kementan untuk Pemerataan dan Modernisasi Sektor Unggas
Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah melalui Kementan telah menyiapkan serangkaian program strategis guna mendorong pemerataan produksi. Salah satu fokus utamanya adalah pengembangan klaster produksi ayam petelur dan ayam pedaging di berbagai wilayah di luar Jawa. Tahap awal program ini akan menyasar beberapa provinsi kunci, termasuk Aceh, Riau, Sumatra Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua Selatan, dan Jawa Timur.
Selain pengembangan klaster, Kementan juga berkomitmen untuk memperkuat hilirisasi ayam secara terintegrasi. Program ini mencakup pembangunan 323 fasilitas industri ayam, mulai dari tahap pembesaran, pemotongan, hingga penyimpanan dingin. Inisiatif ini sejalan dengan rencana alokasi anggaran sebesar Rp20 triliun yang akan dimanfaatkan untuk mendukung integrasi dan modernisasi sektor unggas nasional.
Melalui upaya komprehensif ini, Kementan berupaya mewujudkan konsep "Setiap Pulau Mandiri Protein". Konsep ini bertujuan agar setiap wilayah di Indonesia mampu memenuhi kebutuhan protein hewani dari produksi daerahnya sendiri. Dengan demikian, ketergantungan pada satu wilayah produksi dapat diminimalisir, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Dampak dan Dukungan untuk Ketersediaan Protein Nasional
Dirjen Agung Suganda berharap bahwa pemerataan pengembangan produksi di luar Jawa ini akan secara signifikan menekan disparitas harga komoditas ayam dan telur. "Diharapkan pemerataan pengembangan ayam ini akan semakin luas dan disparitas harga maupun potensi inflasi daging ayam dan telur di luar Pulau Jawa bisa kita tekan," jelasnya. Ini merupakan langkah penting untuk memastikan harga yang stabil dan terjangkau bagi konsumen di seluruh Indonesia.
Dukungan terhadap program pemerintah ini juga datang dari sektor akademisi. Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Budi Guntoro, menegaskan peran strategis perguruan tinggi dalam menyediakan sumber daya manusia yang berkualitas. Indonesia memiliki lebih dari 150 program studi peternakan yang siap mendukung implementasi program pemerataan ini, terutama di wilayah Indonesia bagian timur.
Kolaborasi antara pemerintah, industri, dan akademisi menjadi kunci keberhasilan dalam mencapai kemandirian protein. Dengan adanya sinergi ini, diharapkan pasokan daging ayam dan telur dapat lebih merata, harga lebih stabil, dan akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan peternak serta memenuhi kebutuhan gizi masyarakat secara berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews