Kebijakan HET dinilai buat industri pangan lebih bisa bersaing
Menjelang Ramadan, harga pangan di pasaran siap-siap alami kenaikan. Namun, pemerintah tak tinggal diam. Salah satu cara untuk menstabilisasi harga pangan adalah kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beberapa jenis pangan seperti minyak goreng, gula, daging beku, bawang merah dan bawang putih.
Menjelang Ramadan, harga pangan di pasaran siap-siap alami kenaikan. Namun, pemerintah tak tinggal diam. Salah satu cara untuk menstabilisasi harga pangan adalah kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beberapa jenis pangan seperti minyak goreng, gula, daging beku, bawang merah dan bawang putih.
Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia Ninasapti Triaswati menilai kebijakan-kebijakan dalam langkah stabilisasi harga pangan yang dilakukan pemerintah sangat positif. "Jika pemerintah punya aturan, memang harus ditegakkan," ujarnya di Jakarta, Kamis (18/5).
Sementara itu, Pengamat Ekonomi dari IPB, Hermanto Siregar menilai penetapan HET yang direspon negatif oleh para produsen dan pabrik gula mestinya bukan jadi soal. Mestinya, katanya, para produsen dan para pengusaha pabrik gula ini yang melakukan evaluasi kerja.
Hermanto menilai penetapan kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) pada gula membuat masyarakat lebih mudah dalam mengakses gula. Sebab, selama ini memang perlu ada peningkatan bagi efektifitas dan efisiensi pada pabrik gula.
"Saya kira, pemerintah harus mempertahankan kebijakan HET ini. Bagaimana industri kita mau punya daya saing kalau dengan HET saja mengeluh. Artinya kalau negara lain bisa dengan biaya produksi yang lebih murah, kita mestinya berupaya ke arah itu bukan malah meminta HETnya dinaikin," kata Hermanto.
Dia menilai kebijakan HET harus menjadi tantangan bagi industri gula agar bisa melakukan efisensi pabrik. Efisiensi tersebut tak hanya dilakukan pada pabrik gula tetapi juga kepada para usaha tani tebu.
"Karena, kalau tidak ada upaya peningkatan efisiensi di dua aspek baik di budidaya maupun perusahaan gulanya. Maka biaya persatuannya tetep tinggi, jadi mereka pasti minta HET dikurangi," jelasnya.
Dia menjelaskan efisiensi secara keseluruhan bagi komoditi gula itu kombinasi antara usaha petani tebu dan pabrik gulanya. Jadi, produktifitas ataupun rendemen gula nasional bisa ditingkatkan lagi.
"Efisiensi yang meningkat itu, rendemen gula itu bisa dinaikan lagi. Masih ada lah space dan ruangan untuk melakukan hal tersebut," tegasnya.
Hermanto menjelaskan jika penghasil tebu memiliki produktivitas yang tinggi maka para industri juga memiliki produktivitas yang tinggi juga. "Jadi misalnya, umpamanya, bisa menghasilkan tebu dengan produktivtas yang tinggi. Maka, si petani mendapatkan bayaran yang bagus. Sedangkan si pabrik kalau rendeminnya tinggi jadi gula, maka produktivitasnya tinggi," tambah Hermanto.
Dia menambahkan saat ini PT PN selaku BUMN gula juga masih memproduksi gula dengan redemin yang rendah. Hal ini karena faktor efisiensi mesin giling dan overheat pabrik. Untuk itu, lanjutnya, perlu ada perbaikan di kedua sektor.
"Bukan hanya produktivitas petani saja, pabrik gulanya juga. PT PN itu banyak yang rendeminnya rendah itu. Jadi mungkin efisiensi mesing giling, overheat pabrik juga. Jadi, dua-duanya harus diatasi," pungkasnya.
Baca juga:
Harga bawang putih masih tinggi, capai Rp 62.000 per gram
Pemerintah impor gula jika distributor tahan pasokan jelang Lebaran
Kebijakan pemerintah jual bawang putih Rp 25.000/Kg dikeluhkan
Jaksa Agung dukung satgas pangan berantas spekulan
Fakta harga bawang putih tembus Rp 65.000/Kg hingga impor dari China
Ramadan, BUMD pangan amankan pasokan bahan pokok di Jakarta
Wakapolri 'warning' importir pangan setop penimbunan atau ditangkap