Januari, neraca perdagangan Indonesia surplus USD 50 juta
"Sejak 2009 Januari terhadap Desember memang selalu turun," ujar Suryamin.
Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor Januari 2016 mengalami penurunan 11,88 persen menjadi USD 10,50 miliar dibanding Desember 2015. Sedangkan. nilai impor Januari 2016 mencapai USD 10,45 miliar.
Dengan begitu, neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2016 surplus USD 50 juta.
"Januari 2016, neraca perdagangan surplus USD 50 juta. Setiap Januari dibanding Desember memang selalu turun. Apakah ini memang tren? Biasanya naik di bulan berikutnya. Sejak 2009 Januari terhadap Desember memang selalu turun," ujar Kepala BPS Suryamin di kantornya, Jakarta, Senin (15/2).
Menurut Suryamin, penurunan ekspor Januari 2016 disebabkan oleh menurunnya ekspor non migas 11,52 persen dari USD 10,61 miliar menjadi USD 9,39 miliar, demikian juga ekspor migas turun 14,81 persen menjadi USD 1,10 miliar dari USD 1,29 miliar.
Penurunan ekspor migas disebabkan oleh menurunnya ekspor minyak mentah 18,03 persen menjadi USD 356,5 juta dan ekspor gas turun 15,34 persen menjadi USD 665 juta, sebaliknya ekspor hasil minyak naik 8,09 persen menjadi USD 85,5 juta.
Sementara, penurunan ekspor non migas terjadi lantaran pada lemak dan minyak hewan atau nabati turun 20,15 persen menjadi USD 327,3 juta. Komoditi lainnya juga turun seperti bijih, kerak dan abu logam 56,39 persen menjadi USD 271,9 juta, bahan bakar mineral 7,77 persen menjadi USD 91,4 juta, pakaian jadi bukan rajutan 15,41 persen menjadi USD 59,5 juta, serta timah 63,40 persen menjadi USD 57,2 juta.
Dari sisi volume ekspor Januari 2016 menurun 10,04 persen dibanding Desember 2015 yang disebabkan penurunan volume ekspor non migas 10,44 persen. Sementara itu, volume migas turun 5,77 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Dibandingkan dengan Januari 2015 volume total ekspor menurun 11,19 persen.
Berdasarkan negara tujuan utama, ekspor non migas ke Amerika Serikat Januari 2015 mencapai USD 1,23 miliar, lalu Jepang USD 1,04 miliar dan Tiongkok USD 0,89 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 33,64 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa 27 negara sebesar USD 1,16 miliar.
Sementara itu, nilai impor Januari 2016 juga mengalami penurunan 13,48 persen menjadi USD 10,45 miliar dibanding Desember 2015. Demikian pula jika dibanding Januari 2015 turun 17,15 persen.
Hal tersebut disebabkan oleh turunnya nilai impor migas dan non migas masing-masing USD 577,1 juta atau 32,10 persen dan USD 1,05 miliar atau 10,22 persen.
"Penurunan impor migas karena turunnya nilai impor semua komponen migas, seperti minyak mentah 40,61 persen menjadi USD 269,3 juta, hasil minyak 26,93 persen menjadi USD252,3 juta dan gas turun 28,03 persen menjadi USD 55,5 juta," jelas Suryamin.
Menurut dia, penurunan terbesar non migas terbesar adalah golongan mesin dan peralatan listrik 19,69 persen menjadi USD 273,8 miliar.
Negara pemasok barang impor non migas terbesar selama Januari 2016 ditempati oleh Tiongkok dengan nilai USD 2,48 miliar atau 26,86 persen, Jepang 9,73 persen atau USD 0,90 miliar dan Thailand USD 0,66 miliar atau 7,20 persen.
"Impor nonmigas dari Asean mencapai pangsa pasar 21,63 persen, dan dari Uni Eropa 10,59 persen," tutup dia.
Baca juga:
Januari 2016, BPS catat upah riil buruh menurun
Gubernur Papua: Kami ingin saham Freeport gratis
KSPI sebut industri farmasi bakal PHK 200 karyawan
Hapus sertifikasi kayu bikin produk RI tak masuk pasar Eropa
KPK catat 3.900 izin tambang bermasalah, target selesai Mei 2016
Imbas pelemahan harga minyak, rupiah dibuka menguat ke Rp 13.472/USD
Pro kontra keputusan Jokowi tambah utang dari luar negeri