Inovasi Personel Brimob Gorontalo: Produksi Arang Batok Kelapa Kualitas Ekspor
Ipda Arifin Mahadjani, seorang personel Brimob Gorontalo, berhasil mengembangkan usaha produksi arang batok kelapa berkualitas ekspor, menciptakan lapangan kerja, dan menembus pasar global.
Seorang personel Satuan Brimob Polda Gorontalo, Ipda Arifin Mahadjani, menunjukkan inovasi luar biasa di bidang ekonomi kreatif. Ia sukses memanfaatkan batok kelapa yang melimpah di Gorontalo untuk diolah menjadi arang berkualitas ekspor. Usaha ini berlokasi di Tibawa, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, dan telah berjalan sejak tahun 2015.
Ipda Arifin menjelaskan bahwa pemilihan pengolahan arang batok kelapa sebagai usaha didasari oleh kemudahan bahan baku. Batok kelapa sangat mudah didapatkan di wilayah tersebut, menjamin keberlangsungan produksi. Selain itu, risiko kerusakan bahan baku terbilang minim, bahkan setelah diproduksi setengah jadi.
Produk arang batok kelapa hasil olahannya tidak hanya terbatas untuk pasar domestik. Arang tersebut, yang juga menghasilkan produk karbon dan briket, telah berhasil menembus pasar internasional. Pengiriman dilakukan ke pembeli di Manado, Surabaya, hingga ke berbagai negara di Timur Tengah dan Eropa.
Potensi Lokal dan Jangkauan Pasar Global
Pemanfaatan batok kelapa menjadi arang kualitas ekspor oleh Ipda Arifin Mahadjani merupakan contoh nyata optimalisasi potensi lokal. Bahan baku yang melimpah di Gorontalo menjadi keunggulan utama usaha ini, didukung oleh minimnya risiko kerusakan bahan baku. Hal ini memastikan pasokan yang stabil untuk proses produksi berkelanjutan.
Jangkauan pasar produk arang ini sangat luas, menjangkau kota-kota besar di Indonesia seperti Manado dan Surabaya. Lebih impresif lagi, produk ini telah berhasil diekspor ke sejumlah negara di Timur Tengah dan Eropa. Ini menunjukkan bahwa produk lokal Gorontalo memiliki daya saing tinggi di kancah internasional.
Provinsi Gorontalo sendiri memiliki potensi kelapa yang sangat baik dan menjanjikan. Menurut Arifin, produk turunan kelapa dari daerah ini memiliki kualitas dan harga yang kompetitif di pasaran. Ini menjadi modal besar bagi pengembangan industri serupa di masa depan.
Tantangan Usaha dan Dampak Ekonomi
Usaha produksi arang batok kelapa yang dirintis Ipda Arifin sejak tahun 2015 ini telah memberikan dampak ekonomi signifikan. Saat ini, usaha tersebut telah menyerap tenaga kerja sebanyak 45 orang, yang tersebar di dua lokasi produksi arang. Ini merupakan kontribusi nyata dalam mengurangi angka pengangguran lokal.
Volume produksi arang mencapai 20 ton setiap pekannya, menunjukkan skala usaha yang cukup besar. Namun, produksi ini juga bergantung pada harga kopra, di mana harga kopra yang mahal dapat memengaruhi ketersediaan bahan baku. Banyak petani yang memilih menjual kelapa dalam bentuk tempurung, bukan kopra, saat harga kopra tinggi.
Meskipun demikian, perjalanan usaha ini tidak selalu mulus. Arifin mengenang masa sulit saat pandemi COVID-19 dan awal konflik Rusia-Ukraina, yang sempat berdampak pada produksi dan penjualan arang batok kelapa. Saat ini, produk arang dengan kadar 13 persen dijual dengan harga Rp13.000 per kilogram, menunjukkan nilai ekonomis yang stabil.
Sumber: AntaraNews