InJourney Dorong Peningkatan Kapasitas UMKM Prambanan Lewat Program Ambara Budaya
InJourney Destination Management (IDM) menggelar program Ambara Budaya untuk Peningkatan Kapasitas UMKM Prambanan, membekali 100 pelaku usaha agar mampu bersaing di sektor pariwisata berkualitas.
InJourney Destination Management (IDM) baru-baru ini menyelenggarakan program Ambara Budaya yang berfokus pada peningkatan kapasitas UMKM. Kegiatan ini berlangsung di kawasan Candi Prambanan dan Keraton Ratu Boko, tepatnya di Gedung Serbaguna Desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman. Program ini bertujuan untuk memperkuat peran pelaku usaha lokal dalam mendukung pariwisata berkualitas.
Program ini diikuti oleh 100 pelaku UMKM dari tiga wilayah kecamatan yang berdekatan dengan Candi Prambanan dan Keraton Ratu Boko. Mereka merupakan pengusaha di bidang kuliner, fashion seperti batik ecoprint dan shibori, serta jasa seperti wisata dan salon bengkel. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya IDM untuk memberdayakan masyarakat sekitar destinasi wisata.
General Manajer Prambanan dan Ratu Boko, Ratno Timur, menyatakan bahwa kegiatan ini adalah tindak lanjut dari pemetaan sosial yang telah dilakukan IDM. Tujuannya adalah untuk memastikan warga memiliki kapasitas yang memadai dalam aktivitas pariwisata, ekonomi kreatif, dan sektor penunjang lainnya. Diharapkan dukungan ini dapat meningkatkan kualitas layanan dan produk UMKM di wilayah tersebut.
Memperkuat UMKM di Kawasan Prambanan
Program Ambara Budaya ini secara spesifik menargetkan pelaku UMKM yang berlokasi di ring I kawasan Warisan Budaya Dunia. Peserta berasal dari Kecamatan Prambanan, Klaten, meliputi Desa Tlogo, Bugisan, Kokosan, Kebondalem Kidul, dan Pereng. Sementara itu, dari Kecamatan Prambanan, Sleman, terdapat perwakilan dari Desa Bokoharjo dan Sambirejo, serta Desa Tamanmartani di Kecamatan Kalasan, Sleman.
Ratno Timur menekankan pentingnya program ini dalam mendukung ekosistem pariwisata yang berkelanjutan di sekitar Candi Prambanan. "Kami berharap dukungan ini bisa meningkatkan kapasitas pelaku usaha untuk mendukung terselenggaranya pariwisata berkualitas di wilayah Prambanan," ujarnya.
Inisiatif ini merupakan bentuk komitmen IDM dalam memberdayakan masyarakat lokal. Dengan peningkatan kapasitas UMKM, diharapkan produk dan jasa yang ditawarkan dapat memenuhi standar pariwisata internasional. Hal ini juga sejalan dengan upaya pengembangan destinasi wisata yang inklusif dan memberikan manfaat ekonomi bagi komunitas setempat.
Materi Pelatihan Komprehensif untuk Peningkatan Daya Saing
Sustainability Division Head IDM, Ismiyati, menjelaskan bahwa program Ambara Budaya ini merupakan pilar ekonomi dari program Cipta Ambara Budaya. Materi pelatihan yang diberikan sangat beragam dan relevan dengan kebutuhan UMKM saat ini. Ini mencakup pengenalan legalitas usaha, market awareness, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) bagi UMKM.
Selain itu, peserta juga dibekali dengan ilmu praktis mengenai fotografi dan packaging produk UMKM. "Kami juga membekali mereka dengan ilmu 'packaging' serta foto produk sederhana yang kemudian diolah dengan kecerdasan buatan yang gratis untuk menampilkan produk agar lebih menjual," kata Ismiyati. Tujuannya adalah agar produk mereka bisa lebih menarik dan mudah diterima pasar.
Pada sesi legalitas usaha, peserta didorong untuk segera mendapatkan Nomor Induk Berusaha (NIB). NIB ini penting sebagai dokumen legal untuk mempermudah perizinan seperti sertifikat PIRT untuk produk makanan minuman atau sertifikat halal. Ini adalah langkah krusial dalam memastikan produk UMKM memiliki daya saing dan kredibilitas di pasar yang lebih luas.
Materi "market awareness" juga membuka wawasan peserta mengenai peluang usaha yang semakin terbuka dan tantangan ke depan. Ismiyati menambahkan, "Sebagai UMKM di ring I kawasan Warisan Budaya Dunia, mereka didorong untuk lebih mengenal potensi usaha yang semakin terbuka dan menantang."
Dampak Positif dan Komitmen Berkelanjutan
Program ini tidak hanya berfokus pada pelatihan, tetapi juga pada komitmen keberlanjutan IDM. Ismiyati menyatakan bahwa manfaat program akan dinilai menggunakan metode 'Social Return on Investment' (SROI). Metode ini memastikan bahwa dampak positif program benar-benar dirasakan oleh masyarakat dan memberikan nilai tambah yang signifikan.
Salah satu peserta, Rindang Irwina, mengungkapkan apresiasinya terhadap pelatihan ini. "Pelatihan ini bisa menambah bagus tampilan produk di media sosial kami, yang semoga bisa menambah daya tarik dan daya jual produk," ujarnya. Ini menunjukkan bahwa materi yang diberikan relevan dan langsung dapat diaplikasikan oleh para pelaku UMKM.
Peningkatan kapasitas UMKM ini diharapkan dapat menciptakan produk dan layanan pariwisata yang lebih berkualitas. Dengan demikian, kawasan Candi Prambanan dan Keraton Ratu Boko tidak hanya dikenal karena keindahan sejarahnya, tetapi juga karena dukungan ekonomi kreatif lokal yang kuat dan berdaya saing.
Sumber: AntaraNews