Ini keunggulan industri baja nasional mampu bersaing di pasar global
Ada dua keunggulan dari industri baja nasional jika dibandingkan dengan industri baja dari negara Asia Tenggara lain.
Industri baja Indonesia masih menyimpan harapan bersaing di pasar Asia Tenggara. Ada dua keunggulan dari industri baja nasional jika dibandingkan dengan industri baja dari negara Asia Tenggara lain.
Pertama, struktur industri baja Indonesia yang sudah terintegrasi dari hulu sampai hilir. Kedua, produksi baja Indonesia memiliki peluang terbesar di Asia Tenggara.
"Konsumsi baja di Asia terbesar di dunia, dimana tahun 2015 sebesar 955 juta ton, 2016 sebanyak 993 juta ton," ujar Kepala Komite Indonesia Iron&Steel Industry Association (IISIA) Basso Datu Makahanap di Hotel Pullman, Jakarta, Selasa (11/10).
Kendati demikian, ada tantangan para pelaku industri untuk mengembangkan pasar komoditas baja. Salah satunya, dengan meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM).
Kedua, bersinergi dengan korporasi luar negeri agar bisa menampung produksi subsitusi, tidak perlu didatangkan dari luar negeri. Ketiga, meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri dalam setiap pembangunan di hulu dan hilir.
"Sekaligus pemerintah dapat menjamin ketersediaan energi dan menekan ongkos-ongkos logistik sehingga bisa bersaing," pungkasnya.
Baca juga:
Asosiasi: 60 persen kebutuhan baja nasional dipenuhi dalam negeri
Harga gas turun, 3 perusahaan minat bangun pabrik senilai Rp 114 T
Bos BKPM sebut sektor jasa bakal dorong ekonomi Indonesia
Sektor properti di Indonesia ini jadi incaran investor asing
Perekonomian Indonesia membaik bikin industri ritel bergerak positif
Imbas ekonomi global, pertumbuhan properti di Indonesia stagnan
Kemenperin usulkan 11 sektor industri ini dapat diskon harga gas