Indonesia dan Filipina Wakili ASEAN Masuk Indeks Transparansi Pajak Dunia
Hal itu berdasarkan laporan resmi Global Tax Expenditures Transparency Index (GTETI) yang dirilis pada 11 Mei 2026 melalui Tax Expenditure Report (TER).
Indonesia kembali mencatatkan prestasi di tingkat global dalam sektor perpajakan. Berdasarkan laporan resmi Global Tax Expenditures Transparency Index (GTETI) yang dirilis pada 11 Mei 2026 melalui Tax Expenditure Report (TER), Indonesia berhasil menempati posisi pertama dari total 116 negara dalam aspek transparansi insentif perpajakan.
Dalam daftar tersebut, Indonesia meraih skor 79,9 dan naik satu peringkat dibandingkan sebelumnya. Capaian tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat keterbukaan pelaporan insentif pajak terbaik di dunia.
Mengutip laman resmi GTETI, Senin (18/5) di kawasan ASEAN, hanya Indonesia dan Filipina yang berhasil masuk dalam daftar indeks tersebut. Filipina sendiri berada di posisi ke-79.
Adapun pencapaian ini menempatkan Indonesia di atas sejumlah negara maju seperti Korea Selatan, Australia, Belanda, Kanada, hingga Amerika Serikat. GTETI sendiri merupakan indeks yang mengukur tingkat keterbukaan dan transparansi suatu negara dalam melaporkan kebijakan insentif perpajakan atau tax expenditure.
Dalam laporan tersebut, sejumlah negara mencatat kenaikan peringkat signifikan. Australia dan Belanda sama-sama melonjak delapan peringkat, sementara Rusia naik sembilan posisi. Yunani juga mencuri perhatian setelah melesat 12 peringkat dan Meksiko melonjak hingga 28 posisi.
Di sisi lain, beberapa negara mengalami penurunan posisi. Belgia turun paling tajam hingga 14 peringkat. Italia turun enam posisi, sedangkan Prancis dan Brasil masing-masing turun empat dan tiga peringkat.
Respons Kementerian Keuangan
Berdasarkan keterangan Kemenkeu, Posisi ini juga menunjukkan tren peningkatan yang konsisten sejak indeks tersebut pertama kali diluncurkan pada tahun 2023. Saat itu, Indonesia berada pada peringkat ke-15, kemudian pada tahun 2024 meningkat menjadi peringkat ke-2, hingga akhirnya pada tahun ini Indonesia unggul di posisi teratas.
Pada kuartal I 2026, dukungan kebijakan fiskal melalui insentif perpajakan, turut mendukung momentum investasi dan aktivitas sektor riil nasional. Investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto/PMTB) tumbuh kuat 5,96% (yoy), memperkuat pertumbuhan sektor-sektor produktif perekonomian nasional. Capaian tersebut konsisten dengan data Kementerian Investasi yang menunjukkan realisasi investasi langsung tumbuh 7,22%.
Untuk memastikan kebijakan tersebut dikelola secara transparan dan akuntabel, Pemerintah secara konsisten memperkuat pelaporan belanja perpajakan melalui Tax Expenditure Report (TER).
Melalui laporan ini, publik dapat melihat berbagai fasilitas perpajakan yang diberikan negara, termasuk nilai, tujuan kebijakan, jenis pajak, sektor penerima manfaat, serta arah dukungannya bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, pelaporan belanja perpajakan menjadi bagian penting dari tata kelola APBN karena memastikan setiap insentif yang diberikan dapat diawasi bersama.