Harga Polypropylene Melonjak, Pelaku Industri Naikkan Harga Jual Plastik untuk Bertahan
Salah satu yang terdampak adalah harga Polypropylene (PP), bahan baku utama industri plastik yang sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak mentah.
Memanasnya kondisi geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Iran dan jalur strategis Selat Hormuz, mulai membayangi industri berbasis petrokimia.
Salah satu yang terdampak adalah harga Polypropylene (PP), bahan baku utama industri plastik yang sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak mentah.
PT Yanaprima Hastapersada Tbk (YPAS) pun mengakui tekanan tersebut berpotensi semakin besar. Perseroan menyebut, lonjakan harga PP saat ini sudah terjadi dan berisiko meningkat lebih ekstrem apabila gangguan distribusi energi global benar-benar terjadi.
Marketing Manager YPAS, Bernard Tjandradjaja, menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan utama yang dihadapi perseroan saat ini. Menurutnya, kondisi pasar Polypropylene tengah mengalami tekanan baik dari sisi harga maupun ketersediaan.
"Betul bahwa dengan adanya tendensi konflik di Timur Tengah ini harga bahan baku sangat meningkat tinggi," kata Bernard dalam Public Expose YPAS, Kamis (16/4).
Ia menambahkan, saat ini harga Polypropylene tidak hanya mahal, tetapi juga terbatas di pasar. Kondisi tersebut membuat industri plastik harus bergerak cepat dalam mengantisipasi risiko pasokan sekaligus menjaga kelangsungan produksi.
Strategi Penyesuaian Harga Jual
Sebagai langkah antisipasi, YPAS menyatakan akan melakukan penyesuaian harga jual produk mengikuti kenaikan harga bahan baku. Strategi ini dinilai sebagai opsi paling realistis untuk menjaga margin usaha di tengah tekanan biaya yang meningkat.
"Yang bisa kami lakukan adalah berusaha untuk menyesuaikan harga jual mengikuti kenaikan harga bahan baku Polypropylene. Karena sementara ini untuk harga Polypropylene memang sangat-sangat terbatas dan sangat tinggi," ujarnya.
Meski demikian, kebijakan tersebut tidak dilakukan secara sepihak. Perseroan mengedepankan komunikasi dengan para pelanggan untuk mencari titik temu yang saling menguntungkan.
Negosiasi dengan Konsumen Jadi Kunci
Di tengah kenaikan harga, YPAS menilai permintaan terhadap produk plastik, khususnya untuk kebutuhan kemasan, masih tetap tinggi. Hal ini karena sektor industri tetap membutuhkan packaging plastik untuk menjaga operasionalnya.
Kondisi tersebut membuka ruang bagi perseroan untuk melakukan negosiasi harga dengan pelanggan. Dengan pendekatan kolaboratif ini, YPAS berharap dapat menjaga hubungan bisnis jangka panjang sekaligus mempertahankan kinerja di tengah tekanan eksternal yang belum mereda.
"Namun, di sisi lain bahwa konsumen-konsumen kami juga membutuhkan packaging plastik untuk berjalannya industri dan operasional mereka. Karena itu ya kita akan saling berdiskusi dan negosiasi untuk penyesuaian harga jualnya," pungkasnya.