Harga Emas Turun Dua Pekan Beruntun, Investor Tunggu Keputusan The Fed
Harga emas mengalami penurunan akibat meningkatnya kemungkinan kenaikan suku bunga di Amerika Serikat.
Harga emas mengalami penurunan untuk minggu kedua berturut-turut pada perdagangan Jumat. Penurunan ini disebabkan oleh meningkatnya ekspektasi bahwa suku bunga di Amerika Serikat (AS) akan tetap tinggi atau bahkan kembali naik menjelang rapat kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang akan datang.
Mengutip dari CNBC pada Sabtu (13/6), harga emas spot tercatat stabil di angka USD 4.225,73 per ounce, namun secara mingguan masih menunjukkan penurunan sekitar 2,4%. Di sisi lain, kontrak berjangka emas AS ditutup naik 3% menjadi US$ 4.238,80 per ounce.
Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap harga emas dipicu oleh kekhawatiran bahwa inflasi akan bertahan lebih lama.
"Saya pikir inflasi akan bertahan untuk beberapa waktu, bahkan jika harga minyak turun. Kita sudah pernah mendengar cerita seperti ini sebelumnya dan masih ada tingkat skeptisisme tertentu di pasar," ujar Grant. Selain itu, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak dunia. Harga minyak mengalami penurunan lebih dari 2% setelah muncul laporan mengenai kemungkinan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk menghentikan konflik di kawasan Teluk.
Menurut sumber, kesepakatan tersebut mungkin akan ditandatangani paling cepat pada hari Minggu, dengan Jenewa sebagai lokasi yang paling mungkin. Namun, kantor berita Fars dari Iran membantah spekulasi ini dengan mengutip sumber yang dekat dengan proses negosiasi.
Sejak pecahnya perang di kawasan tersebut pada akhir Februari, harga emas terus menghadapi tekanan karena kekhawatiran investor bahwa lonjakan harga minyak akan memicu inflasi yang lebih tinggi, sehingga membuat bank sentral mempertahankan suku bunga pada tingkat tinggi lebih lama.
Daya Tarik Emas Menurun
Emas secara tradisional dianggap sebagai aset yang dapat melindungi nilai terhadap inflasi. Namun, ketika suku bunga mengalami kenaikan, ketertarikan terhadap emas biasanya menurun, karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil seperti yang ditawarkan oleh obligasi atau instrumen keuangan lainnya.
Menurut alat pemantau CME FedWatch, saat ini para pelaku pasar memperkirakan kemungkinan sebesar 57% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga lagi sebelum tahun ini berakhir. Ekspektasi tersebut semakin diperkuat oleh sejumlah data ekonomi dari AS yang dirilis pekan ini.
Data menunjukkan bahwa harga produsen pada bulan Mei meningkat lebih tinggi dari yang diperkirakan, sedangkan inflasi konsumen kembali melonjak dan berada di atas level 4%. Kini, perhatian investor tertuju pada rapat kebijakan moneter Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung pada tanggal 16-17 Juni.
Rapat ini menjadi yang pertama dipimpin oleh Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh. Meskipun demikian, pasar tetap memperkirakan bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini.
Sementara itu, bank investasi UBS telah menurunkan proyeksi harga emas. UBS mengingatkan bahwa penundaan dalam pemangkasan suku bunga oleh The Fed dapat berpotensi menekan harga emas ke kisaran USD 3.850 hingga USD 4.000 per ounce dalam waktu dekat.
Industri Barang Mewah Terdampak
Saat ini, industri barang mewah mulai merasakan dampak dari lonjakan harga emas. Salah satu produsen jam tangan terkenal asal Swiss, Rolex, telah mengumumkan kenaikan harga global untuk koleksi jam tangan emasnya sebesar rata-rata 5% pada bulan ini.
Menurut informasi dari dua platform riset yang fokus pada industri barang mewah serta dua dealer yang mengetahui kebijakan tersebut, ini merupakan kenaikan harga kedua yang terjadi dalam setahun di beberapa pasar utama Rolex, seperti Inggris, Hong Kong, dan Amerika Serikat.
Dengan kata lain, efek dari harga emas yang tinggi tidak hanya memengaruhi pasar emas itu sendiri, tetapi juga berimbas pada sektor barang mewah. Kenaikan harga ini menunjukkan bagaimana produsen barang mewah harus beradaptasi dengan kondisi pasar yang berubah, dan ini menjadi perhatian penting bagi konsumen yang ingin membeli produk-produk premium.
Seperti yang diungkapkan, "kenaikan ini menjadi peningkatan harga kedua dalam satu tahun di sejumlah pasar utama Rolex, termasuk Inggris, Hong Kong, dan Amerika Serikat."