Harga Emas Dunia Tembus USD 3.700, Masih Berpotensi Menguat
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan tren bullish ini masih berlanjut.
Harga emas dunia kembali menguat signifikan setelah sempat menembus level USD 3.700 per troy ounce.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan tren bullish ini masih berlanjut dengan potensi menuju resisten pertama di level USD 3.712 dalam pekan ini.
"Hari ini harga emas sempat tembus level USD 3.700, kemudian kembali terkoreksi, tetapi saya melihat bahwa harga emas dunia kemungkinan besar dalam minggu ini akan menuju di level USD 3.712," kata Ibrahim dalam keterangannya dikutip Liputan6, Selasa (16/9).
Ibrahim menambahkan, jika momentum berlanjut, target berikutnya berada di USD 3.760. Namun, jika terjadi koreksi, level USD 3.645 akan menjadi support pertama, disusul support lebih rendah di USD 3.596.
"USD 3.712 itu adalah resisten pertama. Resisten kedua kemungkinan di level USD 3.760. Seandainya terkoreksi, support pertama itu adalah USD 3.645, kemudian resisten di USD 3.596. Itu untuk harga emas dalam minggu ini," jelasnya.
Menurut Ibrahim, lonjakan harga emas menunjukkan respons kuat investor global terhadap ketidakpastian pasar. Sebagai aset safe haven, emas kembali dilirik untuk melindungi nilai investasi dari gejolak geopolitik dan kebijakan moneter.
Geopolitik Ukraina–Rusia Jadi Pendorong Reli
Ibrahim menilai eskalasi konflik di Eropa Timur menjadi faktor utama penguatan emas. Dalam dua pekan terakhir, Ukraina meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak Rusia.
Sementara itu, mantan Presiden AS Donald Trump mendorong sanksi tambahan terhadap industri minyak Moskow.
"Di sisi lain pun juga kita melihat bahwa Trump pun juga mendesak terhadap negara-negara NATO, Uni Eropa, dan G7 untuk berhenti membeli minyak Rusia. Trump sudah memberikan surat terhadap negara-negara NATO, Uni Eropa, dan G7 secara resmi agar negara-negara tersebut tidak mengimpor minyak dari Rusia," papar Ibrahim.
Pasar Tunggu Keputusan The Fed
Selain faktor geopolitik, fokus pasar kini tertuju pada pertemuan Federal Reserve pada 16–17 September 2025. The Fed diperkirakan akan memangkas suku bunga 25 basis poin, langkah dovish yang hampir pasti diambil menurut 98 persen ekonom di AS.
Pemangkasan suku bunga berpotensi melemahkan dolar AS, sehingga membuat emas lebih menarik bagi investor global.
"Sehingga kebijakan-kebijakan bank sentral Amerika kemungkinan besar akan condong menurunkan suku bunga. Nah, itu yang membuat harga emas dunia kembali lagi mengalami penguatannya cukup signifikan," pungkas Ibrahim.