Gerakan Pangan Murah Surabaya Kendalikan Inflasi Jelang Ramadan
Pemerintah Kota Surabaya melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) berupaya mengendalikan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat menjelang Ramadan. Inisiatif ini memasarkan hasil panen petani lokal dan produk padat karya.
Pemerintah Kota Surabaya menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) di Kelurahan Jepara, Kecamatan Bubutan, untuk mengendalikan inflasi. Kegiatan ini bertujuan menjaga daya beli masyarakat menjelang bulan suci Ramadan.
Inisiatif strategis ini memasarkan langsung hasil panen dari petani lokal serta produk padat karya. Tujuannya adalah mendekatkan akses pangan murah kepada warga Surabaya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya, Antiek Sugiharti, menjelaskan bahwa GPM merupakan instruksi langsung Wali Kota Eri Cahyadi. Ini dilakukan untuk menstabilkan harga komoditas yang mulai mengalami kenaikan di pasar.
Strategi Pemkot Surabaya Hadapi Kenaikan Harga Pangan
DKPP Kota Surabaya secara khusus memfokuskan perhatian pada komoditas yang harganya melonjak signifikan. Contohnya adalah telur dan cabai rawit, dengan menyediakan alternatif yang jauh lebih terjangkau. Program ini dirancang untuk meringankan beban ekonomi masyarakat.
Keunikan GPM kali ini terletak pada penawaran langsung hasil panen masyarakat melalui kelompok tani (Poktan). Pendekatan ini secara efektif memotong rantai distribusi yang panjang.
Antiek Sugiharti menjelaskan bahwa pasokan hasil panen lokal ini menjadi solusi untuk menyiasati harga cabai yang masih tinggi di pasaran. Warga dapat memperoleh harga tangan pertama langsung dari petani.
Selain cabai, telur ayam yang didatangkan untuk GPM juga merupakan hasil dari program padat karya. Program ini merupakan binaan langsung dari Pemerintah Kota Surabaya.
Ketersediaan dan Pembatasan Pembelian Komoditas Pangan
Dalam pelaksanaan GPM kali ini, DKPP Kota Surabaya telah menyiapkan beragam kebutuhan pokok dalam jumlah besar. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat secara luas.
Persediaan yang disiapkan meliputi 1.300 liter minyak goreng, serta 500 sak beras. Jumlah beras tersebut terbagi menjadi 300 sak SPHP dan 200 sak beras premium. Selain itu, tersedia pula 500 kilogram gula pasir.
Tidak hanya itu, GPM juga menyediakan 250 kilogram telur ayam, hasil kolaborasi distributor dan program padat karya. Komoditas lain seperti bawang merah, bawang putih, cabai besar, hingga daging juga tersedia.
Untuk memastikan seluruh warga mendapatkan bahan kebutuhan pokok secara merata, diberlakukan pembatasan pembelian. Contohnya, minyak goreng dibatasi maksimal dua botol per orang, beras maksimal dua sak, dan gula pasir sekitar 5-6 kilogram.
Jaminan Pasokan Pangan dan Imbauan Belanja Bijak
Antiek Sugiharti menegaskan bahwa persediaan pangan di Kota Surabaya berada dalam kondisi sangat aman. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu merasa khawatir atau cemas.
Warga diimbau untuk tidak melakukan 'panic buying' atau menimbun barang kebutuhan pokok secara berlebihan. Tindakan tersebut dapat mengganggu stabilitas pasar.
Pemerintah Kota Surabaya mengajak masyarakat untuk berbelanja dengan bijak sesuai kebutuhan. Hal ini penting untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga pangan di pasaran.
Sumber: AntaraNews