Gabung blok pasar bebas AS, Indonesia kudu ubah pola pikir
"Sementara faktor-faktor kunci daya saing ekonomi nasional belum terbangun dengan baik dibanding negara tetangga."
Forum pengkajian kebijakan perdagangan atau Trade Policy Forum (TRAP) menyambut baik niat pemerintah masuk ke dalam Trans-Pacific Partnership (TPP). Namun, sebelum bergabung ke blok pasar bebas Negara Paman Sam itu, pemerintah kudu membereskan sejumlah pekerjaan rumah.
Diantaranya, ubah pola pikir jika ingin melepas stigma negara ekonomi medioker.
Ketua TRAP Hatanto Reksodipoetro menilai perekonomian Indonesia terlalu diproteksi untuk mencegah serbuan produk asing.
"Sementara faktor-faktor kunci daya saing ekonomi nasional belum terbangun dengan baik dibanding negara tetangga kita sendiri," katanya, Jakarta, Rabu (25/11).
Dia menyebut pencapaian ekspor Indonesia masih di bawah rata-rata Asean. Dalam sepuluh tahun terakhir, Indonesia hanya bisa menghasilkan ekspor komoditi sebesar 79,6 persen, produk manufaktur sebesar 8,6 persen, dan jasa sebesar 11,8 persen.
"Revolusi mental itu memang diperlukan. Cara melihat diri sendiri dan melihat dunia memang harus diperbaiki. High cost economy menjadi salah satu masalah yang belum terselesaikan."
Baca juga:
Ekonom sebut BUMN terancam bangkrut jika Jokowi setuju gabung TPP
Ikut blok dagang AS, Mendag yakin RI bisa kejar ketertinggalan
CSIS nilai Indonesia banyak rugi jika tak gabung blok dagang Amerika
Pengusaha Indonesia tak maju karena terbuai pasar dalam negeri
2018, Mendag Lembong isyaratkan RI gabung blok pasar bebas AS