Fakta Unik: Kualitas Beras SPHP Operasi Pasar Harus Terjamin, Mengapa?
Pengamat menyoroti pentingnya Kualitas Beras SPHP dalam operasi pasar dan bantuan pangan. Mengapa kualitas menjadi kunci sukses program pemerintah ini?
Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang digulirkan pemerintah melalui operasi pasar dan bantuan pangan menjadi sorotan utama. Pengurus Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI), Khudori, baru-baru ini menekankan pentingnya memastikan kualitas beras yang disalurkan.
Menurut Khudori, beras yang disalurkan harus memiliki mutu yang baik agar program intervensi harga ini dapat berjalan efektif. Kualitas beras yang buruk, seperti berbau apek atau mudah rusak, berpotensi mengurangi penerimaan konsumen dan pedagang.
Intervensi pemerintah ini bertujuan menjaga stabilitas harga dan pasokan beras nasional. Namun, keberhasilan program sangat bergantung pada kepercayaan masyarakat terhadap produk yang disalurkan, sehingga penjaminan kualitas menjadi krusial.
Pentingnya Kualitas Beras SPHP dalam Distribusi
Khudori menyoroti beberapa aspek terkait mutu beras SPHP yang perlu diperhatikan. Beras stok Bulog yang telah disimpan lebih dari satu tahun berisiko mengalami penurunan kualitas. Kondisi ini dapat menyebabkan beras menjadi apek dan tidak layak konsumsi.
Selain itu, beras yang diserap dari gabah lokal dengan kualitas beragam juga cenderung tidak tahan lama. Beras jenis ini memiliki potensi besar untuk mengalami penurunan mutu secara cepat. Oleh karena itu, proses penjaminan kualitas menjadi sangat penting.
Jika ditemukan beras yang tidak layak, Khudori menyarankan untuk melakukan reprosesing atau pemrosesan ulang. Langkah ini akan memastikan bahwa hanya beras berkualitas baik yang sampai ke tangan konsumen. Kualitas yang terjamin akan memudahkan penerimaan oleh pedagang dan konsumen, memperlancar distribusi, serta meningkatkan efektivitas program secara keseluruhan.
Strategi Operasi Pasar yang Lebih Efektif
Efektivitas operasi pasar juga menjadi poin penting yang diangkat oleh Khudori. Ia berpendapat bahwa strategi operasi pasar saat ini perlu diubah agar lebih optimal. Operasi pasar sebaiknya tidak hanya menyasar konsumen akhir melalui toko binaan pemerintah daerah atau instansi seperti TNI/Polri.
Sebaliknya, operasi pasar harus lebih berfokus pada mengguyur beras ke pasar dengan menggandeng pedagang. Melibatkan pedagang di pasar, termasuk pasar induk, akan memperluas jangkauan distribusi. Jaringan pedagang di pasar jauh lebih luas dan cepat dalam menyalurkan barang dibandingkan jejaring instansi pemerintah.
Selain pedagang, penggilingan padi juga harus dilibatkan dalam skema distribusi ini. Mereka memiliki jaringan pemasaran yang kuat dan dapat membantu mempercepat penyaluran beras. Dengan demikian, pasokan beras di pasar dapat terpenuhi secara maksimal, yang pada akhirnya akan menstabilkan harga.
Intervensi Pemerintah dan Target Penyaluran
Pemerintah telah melakukan berbagai intervensi untuk menjaga pasokan dan menstabilkan harga beras nasional. Salah satunya adalah dengan memasok beras SPHP secara masif ke pasar. Target penyaluran beras SPHP ini mencapai 1,3 juta ton hingga akhir tahun.
Selain operasi pasar, pemerintah juga menyalurkan bantuan pangan beras kepada masyarakat. Sebanyak 18,3 juta keluarga penerima manfaat telah menerima bantuan beras 10 kg per penerima. Bantuan ini mencakup alokasi untuk bulan Juni dan Juli 2025, yang disalurkan sekaligus dalam satu kali distribusi.
Intervensi ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat. Dengan pasokan yang memadai dan kualitas yang terjaga, diharapkan harga beras dapat stabil dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.
Sumber: AntaraNews