Fakta Unik: Kapasitas Awal 500 Kiloliter, Pertamina Resmikan Terminal BBM Labuan Bajo Dukung Pariwisata Super Prioritas
Pertamina Patra Niaga meresmikan Terminal BBM Labuan Bajo di Pelabuhan Wae Kelambu dengan kapasitas awal 500 kiloliter, siap dukung kebutuhan energi destinasi super prioritas.
PT Pertamina Patra Niaga secara resmi meresmikan Terminal Bahan Bakar Minyak (BBM) di Pelabuhan Multipurpose Wae Kelambu, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Peresmian ini dilakukan pada Kamis (02/10) sebagai langkah strategis dalam mendukung keberlanjutan ekonomi daerah. Fasilitas baru ini diharapkan mampu menopang pengembangan Labuan Bajo sebagai salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) di Indonesia.
Direktur Rekayasa dan Infrastruktur Darat Pertamina Patra Niaga, Hari Purnomo, menyatakan bahwa proyek ini merupakan hasil kolaborasi dan sinergi antar BUMN. Pembangunan terminal melibatkan kerja sama erat dengan Pelindo serta Elnusa Petrofin untuk memastikan operasional yang optimal. Sinergi ini menunjukkan komitmen BUMN dalam memajukan infrastruktur energi nasional.
Terminal BBM Labuan Bajo dibangun di atas lahan seluas 6.000 meter persegi dengan kapasitas tangki awal mencapai 500 kiloliter. Kapasitas ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat seiring dengan pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Kehadiran terminal ini akan menjamin ketersediaan pasokan BBM yang stabil bagi masyarakat dan pelaku usaha di Labuan Bajo.
Peningkatan Kapasitas dan Kolaborasi Strategis
Pembangunan Terminal BBM Labuan Bajo merupakan manifestasi dari upaya Pertamina untuk memperkuat infrastruktur energi di wilayah timur Indonesia. Hari Purnomo menjelaskan bahwa pada tahap pertama, terminal ini memiliki kapasitas tangki sebesar 500 kiloliter. Kapasitas ini dirancang untuk melayani kebutuhan distribusi BBM ke empat Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) yang ada di Labuan Bajo.
Pertamina Patra Niaga menargetkan peningkatan kapasitas Terminal BBM Labuan Bajo secara signifikan di masa mendatang. "Diharapkan nantinya di ultimate goalnya terminal ini akan memiliki kapasitas setara dengan dua juta liter (2.000 kiloliter), untuk menunjang tersebut ada dua filling atau dua tempat pengisian yang dilakukan untuk pengisian mobil tangki dalam rangka mendistribusikan ke lembaga penyalur di mana tadi dari sampaikan ada empat SPBU dan satu SPDN," ujar Hari Purnomo. Untuk mendukung peningkatan ini, terminal dilengkapi dengan dua titik pengisian (filling point) yang memungkinkan pengisian mobil tangki secara efisien untuk proses distribusi.
Sinergi BUMN menjadi kunci keberhasilan proyek ini, melibatkan Pelindo dalam penyediaan lokasi dan Elnusa Petrofin dalam aspek operasional. "(Terminal BBM ini) kami lakukan kerja sama dan berkolaborasi melalui sinergi BUMN baik itu dengan Pelindo maupun dengan Elnusa Petrofin," kata Hari Purnomo. Kolaborasi ini memastikan bahwa pembangunan dan pengoperasian terminal berjalan lancar dan sesuai standar. Kehadiran fasilitas ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui dukungan pasokan energi yang memadai.
Mitigasi Risiko dan Keandalan Pasokan
Secara operasional, Terminal BBM Labuan Bajo berfungsi sebagai pendukung utama bagi Fuel Terminal Reo yang berlokasi di Kabupaten Manggarai. Pasokan energi atau bahan bakar minyak akan disuplai dari Fuel Terminal Reo ke terminal baru ini, bertindak sebagai persediaan tambahan atau cadangan. Fungsi cadangan ini vital untuk mengantisipasi lonjakan permintaan yang tidak terduga atau fluktuasi dalam rantai pasokan.
Hari Purnomo menekankan pentingnya terminal ini dalam memitigasi berbagai kendala distribusi yang sering terjadi. "Ini dalam rangka memitigasi adanya beberapa kendala ketika proses distribusi dari Reo menuju Labuan Bajo di mana sering kali terkendala adanya longsor maupun adanya kondisi ketika hujan deras," jelasnya. Dengan adanya terminal cadangan, risiko terhambatnya pasokan akibat kondisi geografis atau cuaca ekstrem dapat diminimalisir.
Komitmen Pertamina tidak hanya berhenti pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada jaminan keandalan, ketersediaan, dan ketahanan energi di Labuan Bajo. Keberadaan Terminal BBM Labuan Bajo adalah bukti nyata upaya Pertamina menjaga stabilitas pasokan energi. Hal ini krusial untuk mendukung aktivitas pariwisata dan ekonomi yang sangat bergantung pada ketersediaan bahan bakar.
Rencana Pengembangan Jangka Panjang
Pertamina Patra Niaga telah menyusun rencana pengembangan jangka panjang untuk Terminal BBM Labuan Bajo guna mengoptimalkan operasional dan efisiensi distribusi. Pada tahap kedua, akan dilakukan penambahan infrastruktur yang signifikan. "Nantinya, di tahap kedua insya Allah akan ada empat tangki yang akan kami bangun," ungkap Hari Purnomo. Penambahan ini akan semakin meningkatkan kapasitas penyimpanan terminal.
Selain penambahan tangki, Pertamina juga berencana membangun satu jalur pipa (part line) yang akan terhubung langsung ke jeti milik Pelindo. Inovasi ini bertujuan untuk mengubah moda suplai BBM ke Labuan Bajo di masa depan. "Sehingga ke depannya mode supply ke Labuan Bajo tidak lagi menggunakan moda mobil tangki, tapi menggunakan moda kapal," tambahnya. Dengan jalur pipa ini, distribusi tidak lagi hanya mengandalkan mobil tangki, tetapi juga dapat menggunakan moda kapal yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Perubahan moda suplai menjadi kapal akan mengurangi kepadatan lalu lintas darat dan mempercepat proses pengiriman BBM. Rencana pengembangan ini menunjukkan visi Pertamina untuk menciptakan sistem distribusi energi yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan. Ini adalah langkah strategis untuk mendukung pertumbuhan Labuan Bajo sebagai destinasi kelas dunia.
Sumber: AntaraNews