Dukung Pengurangan Energi Fosil, PLN EPI Kembangkan Bio-CNG Berbasis Limbah Kelapa Sawit
Sumatera Utara memiliki potensi besar untuk pengembangan bio-CNG karena merupakan salah satu sentra industri kelapa sawit nasional.
PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mengembangkan bio-compressed natural gas (bio-CNG) berbasis limbah kelapa sawit dalam rangka mendukung diversifikasi energi hijau dan percepatan transisi energi nasional.
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir mengatakan, melalui pengembangan bio-CNG, pihaknya berupaya mengoptimalkan pemanfaatan limbah domestik menjadi sumber energi rendah karbon, yang mendukung ketahanan energi sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca.
Menurut dia, pengembangan bio-CNG juga menjadi salah satu langkah konkret perusahaan dalam mengoptimalkan potensi limbah biomassa nasional, sekaligus mendukung dekarbonisasi ketenagalistrikan.
"PLN EPI terus mendorong pemanfaatan limbah sawit menjadi sumber energi yang bernilai tambah," katanya saat diseminasi pengembangan biometana di Medan, Sumatera Utara, dikutip dari Antara, Kamis (4/6).
Forum, yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM tersebut, mempertemukan kalangan pemerintah, pelaku industri, lembaga keuangan, dan pemilik bahan baku untuk memperkuat ekosistem biometana nasional.
Hokkop melanjutkan melalui kerja sama dengan pemilik konsesi dan pabrik kelapa sawit, palm oil mill effluent (POME) dapat diolah menjadi biometana yang kemudian dimurnikan menjadi bio-CNG untuk mendukung kebutuhan energi pembangkit listrik.
Menurut dia, Sumatera Utara memiliki potensi besar untuk pengembangan bio-CNG karena merupakan salah satu sentra industri kelapa sawit nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat 327 perusahaan perkebunan sawit yang beroperasi di Sumatera Utara dengan 237 pabrik kelapa sawit yang berpotensi menjadi sumber bahan baku biometana.
PLN EPI saat ini telah menjalin kerja sama dengan PT KIS Biofuels Indonesia yang telah mengembangkan teknologi pengolahan limbah cair sawit menjadi bio-CNG.
Produk bio-CNG tersebut direncanakan untuk mendukung kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Belawan, Sumatera Utara, yang memiliki kapasitas terpasang 1.184 MW dan berkontribusi sebesar 30 persen di sistem Sumatera bagian utara.
"Kami melihat peluang besar untuk memperluas pemanfaatan bio-CNG. Karena itu, PLN EPI terus membuka peluang kolaborasi dengan pabrik kelapa sawit (PKS) agar potensi limbah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dapat diubah menjadi energi bersih yang bernilai ekonomi," tuturnya.
Dukung Pengurangan Energi Fosil
Hokkop menambahkan pengembangan biometana tidak hanya mendukung pengurangan penggunaan energi fosil, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi pelaku industri sawit melalui pemanfaatan limbah yang sebelumnya belum memiliki nilai ekonomi optimal.
Selain mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, pemanfaatan biometana juga memberikan manfaat lingkungan yang signifikan.
Dengan menangkap dan memanfaatkannya sebagai sumber energi, emisi gas rumah kaca kaca dapat ditekan sekaligus menghasilkan sumber energi terbarukan yang andal.
Hokkop melanjutkan pengembangan bio-CNG juga sejalan dengan komitmen PLN EPI dalam mendukung target transisi energi nasional dan pencapaian net zero emissions melalui peningkatan pemanfaatan energi baru terbarukan berbasis sumber daya domestik.
Melalui pengembangan bio-CNG, PLN EPI tidak hanya mengubah limbah menjadi energi, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi hijau yang menghubungkan sektor perkebunan, industri, dan ketenagalistrikan.
"Langkah ini menjadi bukti bahwa transisi energi dapat berjalan beriringan dengan penciptaan nilai ekonomi, pengurangan emisi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat," sebut Hokkop.