Defisit anggaran melebar, pemerintah membuka opsi tambah utang
Defisit diperkirakan melebar dari 2,15 persen menjadi 2,5 persen PDB.
Pemerintah membuka kemungkinan untuk menambah utang. Ini untuk menambal defisit anggaran yang diperkirakan melebar dari 2,15 persen menjadi 2,5 persen atau setara dengan Rp 40 triliun dariProduk Domestik Bruto (PDB)
"Di lain pihak karena ada pelemahan ekonomi ini tentu penerimaan negara tak setinggi apa yang kami harapkan. Karena itu selisihnya itu haruslah menambah dengan utang," kata Wakil Presiden Jusuf Kalla di Jakarta, Kamis (7/4).
Pemerintah sudah merampungkan draf APBN perubahan 2016 dan akan diajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada 17 Mei mendatang. Pembahasannya diharapkan selesai dalam kurun 30 hari.
Di draf tersebut pertumbuhan ekonomi masih dipatok 5,3 persen.
"Otomatis saja kalau untuk pertahankan pertumbuhan itu dibutuhkan investasi pemerintah dan swasta," kata JK.
Kemudian, target inflasi direvisi dari semula 4,7 persen menjadi 4 persen, harga minyak mentah Indonesia (ICP) diturunkan dari USD 50 per barel menjadi USD 35 per barel.
Kemudian, nilai tukar diubah dari Rp 13.900 perUSD menjadi Rp 13.400 per USD.
"Karena keadaan sekarang kan keadaan Amerika dan lainnya juga ikut melemah kan. China dan sebagainya. Boleh dibilang terjadi kestabilan seperti ini. Kestabilan sekitar atau di atas Rp 13.000 per USD."
Baca juga:
Defisit 2016 melebar ke 2,5 persen, pemerintah butuh utang Rp 21 T
Mulai tahun depan, APBN hanya untuk program prioritas
Kepala BPS harap Jokowi tak pangkas dana Sensus Ekonomi 2016
Anggaran Kementerian PU-Pera dipangkas paling banyak di RAPBN-P 2016
Pemerintah tolak beri dana DPR bangun perpustakaan baru
Pemerintah targetkan penghematan perjalanan dinas 2016 Rp 21,5 T