DBS Indonesia Targetkan Bisnis Wealth Management Tumbuh Dua Digit Hingga 2026
PT Bank DBS Indonesia optimistis bisnis DBS Indonesia Wealth Management akan mencatat pertumbuhan dua digit hingga 2026 melalui strategi penetrasi pasar dan penguatan penawaran produk.
PT Bank DBS Indonesia menargetkan pertumbuhan bisnis wealth management mencapai dua digit pada tahun 2026. Target ambisius ini tidak jauh berbeda dari realisasi pertumbuhan pada periode sebelumnya, menunjukkan konsistensi kinerja. Pernyataan ini disampaikan oleh Head of Investment & Insurance Product, Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Djoko Sulistyo, di Jakarta pada hari Senin.
Djoko Sulistyo menjelaskan bahwa optimisme ini didasari oleh strategi komprehensif yang berfokus pada peningkatan penetrasi pasar. Pendekatan ini mencakup akuisisi nasabah baru serta penguatan penawaran produk bagi nasabah eksisting. Komunikasi produk yang tepat sasaran menjadi kunci utama untuk mencapai target pertumbuhan tersebut.
Perseroan sangat yakin bahwa bisnis wealth management akan terus mencatatkan pertumbuhan dua digit hingga akhir tahun 2025 dan berlanjut ke tahun 2026. Proyeksi positif ini didukung oleh fondasi yang kuat dan strategi yang terencana dengan baik.
Strategi Komprehensif untuk Pertumbuhan Berkelanjutan
PT Bank DBS Indonesia menetapkan strategi yang jelas untuk mendorong pertumbuhan bisnis DBS Indonesia Wealth Management. Fokus utama adalah pada peningkatan penetrasi pasar, yang dilakukan melalui dua jalur utama. Pertama, perseroan aktif mengakuisisi nasabah baru untuk memperluas basis klien mereka.
Selain itu, DBS Indonesia juga memperkuat penawaran produk dan layanan bagi nasabah yang sudah ada. Pendekatan ini memastikan bahwa kebutuhan finansial nasabah eksisting terpenuhi secara optimal, sekaligus mendorong loyalitas. Djoko Sulistyo menekankan pentingnya komunikasi produk yang tepat sasaran sebagai fondasi strategi ini.
Dengan komunikasi yang efektif, nasabah dapat memahami nilai dan manfaat dari produk DBS Indonesia Wealth Management yang ditawarkan. Optimisme terhadap pertumbuhan dua digit hingga akhir 2025 dan berlanjut ke 2026 didasari oleh implementasi strategi ini secara konsisten. Perseroan percaya bahwa langkah-langkah ini akan menghasilkan kinerja yang solid.
Bancassurance sebagai Pilar Utama dan Dominasi Produk Tradisional
Peran bancassurance menjadi sangat krusial dalam menopang kinerja bisnis DBS Indonesia Wealth Management. Djoko Sulistyo menyebut bancassurance sebagai salah satu penopang utama bisnis wealth management. Dalam hal ini, produk investasi maupun asuransi saling menopang satu sama lain.
DBS Indonesia juga optimistis bahwa bisnis bancassurance dapat mencatatkan pertumbuhan dua digit hingga akhir tahun 2025. Pertumbuhan ini terutama akan didorong oleh perolehan premi baru dari berbagai produk asuransi. Sinergi antara perbankan dan asuransi terbukti efektif dalam menarik nasabah.
Dari sisi produk, bancassurance DBS Indonesia masih didominasi oleh asuransi tradisional. Produk seperti endowment memegang porsi sekitar di atas 70 persen dari total portofolio. Sementara itu, sisanya berasal dari produk unit link serta asuransi umum, menunjukkan diversifikasi yang terukur.
Peningkatan Kesadaran Masyarakat dan Peran Edukasi Digital
Meskipun tingkat penetrasi asuransi di Indonesia masih tergolong rendah, Djoko Sulistyo mengamati tren positif dalam minat masyarakat. Kesadaran akan pentingnya asuransi terus meningkat seiring waktu. Hal ini menunjukkan potensi pasar yang besar untuk produk-produk DBS Indonesia Wealth Management.
Peningkatan edukasi menjadi faktor pendorong utama di balik tren positif ini. Kemudahan akses informasi melalui media sosial telah memainkan peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. Platform digital memungkinkan informasi tentang asuransi dan investasi tersebar lebih luas dan mudah dijangkau.
Djoko Sulistyo menegaskan bahwa secara keseluruhan, tren minat masyarakat terhadap asuransi menunjukkan perbaikan yang signifikan. Dengan terus berinovasi dalam produk dan strategi komunikasi, DBS Indonesia optimis dapat terus berkontribusi pada peningkatan literasi keuangan. Hal ini sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis wealth management mereka.
Sumber: AntaraNews