Dari 28 Kampus, Tenaga Ahli ESDM Jaring Aspirasi Generasi Muda Kembangkan Potensi Energi Lokal
Tenaga Ahli Menteri ESDM telah mengunjungi 28 kampus di 20 provinsi untuk menjaring aspirasi Generasi Muda dalam mengembangkan Potensi Energi Lokal, apa saja temuan utamanya?
Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Muhammad Iksan Kiat, secara aktif menjaring aspirasi mahasiswa melalui program Project Mindset Shifting. Inisiatif ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengembangkan potensi energi lokal yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk melibatkan generasi muda dalam pembangunan sektor energi.
Kegiatan penjaringan aspirasi ini telah menjangkau 28 kampus di 20 provinsi, dimulai dari Universitas Cenderawasih di Jayapura hingga Universitas Islam Riau di Pekanbaru. Iksan menekankan pentingnya peran pemuda sebagai penggerak, bukan sekadar penonton, dalam ekosistem energi nasional. Roadshow ini diakhiri dengan kunjungan di Politeknik Negeri Lampung, menandai selesainya rangkaian dialog yang intensif.
Melalui serangkaian dialog dan forum terbuka tersebut, Muhammad Iksan Kiat berhasil mengidentifikasi tiga aspirasi utama yang muncul dari kalangan mahasiswa. Aspirasi ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi kebijakan dan program pengembangan energi di masa depan. Fokus utama adalah pada penguatan kompetensi, inovasi berbasis daerah, dan dorongan kewirausahaan di sektor energi.
Mengapa Generasi Muda Menjadi Kunci Potensi Energi Lokal?
Muhammad Iksan Kiat menegaskan bahwa generasi muda adalah "energi bangsa" yang tidak hanya berperan sebagai penerus, melainkan juga sebagai penggerak perubahan fundamental. Menurutnya, kontribusi pemuda sangat vital untuk mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045, terutama dalam konteks pengembangan sektor energi. Pemuda diharapkan tidak hanya siap bekerja, tetapi juga siap berkontribusi secara nyata.
“Energi bangsa tidak hanya datang dari sumber daya alam, tapi juga dari semangat dan kreativitas generasi mudanya,” ujar Iksan dalam keterangan tertulisnya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa kekuatan sejati bangsa terletak pada inovasi dan semangat juang kaum muda. Mereka memiliki potensi besar untuk mengidentifikasi dan mengoptimalkan potensi energi lokal yang belum tergarap maksimal.
Ketika generasi muda memahami peran strategis mereka dalam ekosistem energi nasional, visi Indonesia Emas 2045 bukan lagi sekadar impian, melainkan sebuah keniscayaan yang dapat diwujudkan. Keterlibatan aktif mereka dalam riset, inovasi, dan kewirausahaan akan menjadi pilar utama dalam mencapai kemandirian energi.
Tiga Aspirasi Utama dari Mahasiswa untuk Sektor Energi
Dari berbagai dialog yang dilakukan, muncul tiga aspirasi utama dari anak muda daerah yang sangat relevan dengan pengembangan potensi energi lokal. Aspirasi pertama adalah penguatan kompetensi lokal. Mahasiswa berharap adanya kolaborasi erat antara kampus, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) ESDM, dan dinas terkait. Tujuannya adalah memastikan kurikulum dan pelatihan SDM benar-benar relevan dengan kebutuhan industri energi saat ini dan masa depan.
Aspirasi kedua berfokus pada riset dan inovasi berbasis daerah. Banyak perguruan tinggi menyatakan kesiapan mereka untuk terlibat dalam studi bersama (joint study) guna mengembangkan potensi energi lokal. Hal ini termasuk pembentukan pusat inovasi energi daerah yang dapat menjadi wadah bagi penelitian dan pengembangan teknologi baru. Inisiatif ini diharapkan dapat menghasilkan solusi energi yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing daerah.
Aspirasi ketiga adalah dorongan untuk wirausaha muda energi. Anak muda menunjukkan keinginan kuat untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai nilai sektor ESDM. Ini mencakup pengembangan teknologi pendukung, inovasi alat, hingga pembentukan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bergerak di bidang energi lokal. Mereka ingin menjadi pelaku aktif dalam menciptakan nilai tambah di sektor energi.
Mewujudkan Ekosistem Energi Nasional Melalui Octa Helix
Muhammad Iksan Kiat mengemukakan pentingnya bergerak dari model "triple helix" yang melibatkan pemerintah, akademisi, dan industri, menuju konsep "octa helix". Konsep ini memperluas kolaborasi dengan melibatkan komunitas, media, lembaga keuangan, dan masyarakat sipil. Pendekatan yang lebih inklusif ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem energi yang lebih kuat dan berkelanjutan.
“Kita harus bergerak dari triple helix, antara pemerintah, akademisi, dan industri, menuju octa helix yang melibatkan komunitas, media, lembaga keuangan, dan masyarakat sipil,” kata Iksan. Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, pengembangan potensi energi lokal dapat dilakukan secara lebih komprehensif dan mendapatkan dukungan yang lebih luas dari berbagai lapisan masyarakat.
Ketua Komunitas Migas dan Energi Indonesia, Herry Putranto, yang turut mendampingi roadshow, menyebut langkah penjaringan aspirasi ini sebagai investasi sosial jangka panjang yang sangat strategis. “Konsistensi membina jaringan muda energi akan menentukan kualitas SDM strategis sektor ESDM di masa depan,” ujarnya. Ini menunjukkan bahwa upaya membangun kapasitas dan keterlibatan generasi muda akan memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi sektor energi nasional.
Sumber: AntaraNews