Danantara dan INA Jajaki Investasi Rp13 Triliun di Pabrik Chandra Asri Milik Prajogo Pangestu
Kerja sama ini bertujuan mendukung pembangunan pabrik klor-alkali dan etilen diklorida di Indonesia.
Badan pengelola investasi Indonesia (Danantara) dan Otoritas Investasi Indonesia (Indonesia Investment Authority, INA) resmi menandatangani nota kesepahaman dengan PT Chandra Asri Pacific Tbk untuk menjajaki peluang investasi di sektor petrokimia dan energi. Nilai potensi investasi yang dibahas mencapai hingga USD 800 juta atau sekitar Rp13 triliun.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis Selasa (18/6), ketiga pihak menyampaikan bahwa kerja sama ini bertujuan mendukung pembangunan pabrik klor-alkali dan etilen diklorida di Indonesia.
Dilansir dari Reuters, pabrik ini akan dikelola oleh anak perusahaan Chandra Asri, dengan kapasitas produksi dirancang mencapai 400.000 ton soda api padat dan 500.000 ton etilen diklorida per tahun.
Langkah ini diharapkan dapat memperkuat rantai pasok industri petrokimia nasional serta mendukung substitusi impor bahan baku penting bagi sektor hilir, seperti manufaktur plastik dan kimia.
Kerja sama ini menandai keterlibatan strategis Danantara dan INA sebagai calon investor domestik dalam pengembangan infrastruktur industri yang bernilai tambah tinggi.
Sebagai informasi, PT Chandra Asri merupakan perusahaan yang dimiliki taipan Indonesia, Prajogo Pangestu. Namanya selalu bertengger sebagai orang terkaya di Indonesia versi Forbes.
Proyek Strategis Nasional
Pabrik yang akan dikelola oleh anak usaha PT Chandra Asri Alkali (CAA) tersebut akan memproduksi 400.000 ton soda kaustik padat dan 500.000 ton ethylene dichloride (EDC) per tahun. Proyek ini termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dan diharapkan memperkuat ketahanan industri nasional.
Presiden Direktur Chandra Asri Group, Erwin Ciputra, menyebut kerja sama ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat ekonomi nasional.
“Kolaborasi ini membangun fondasi yang kuat untuk pengembangan industri berkelanjutan dan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya dalam pernyataan resmi, Selasa (18/6).
Produksi EDC dari pabrik ini ditargetkan untuk ekspor, dengan potensi menghasilkan devisa hingga Rp5 triliun per tahun. Selain itu, produksi soda kaustik diproyeksikan mampu mengurangi ketergantungan impor dengan penghematan sekitar Rp4,9 triliun per tahun.
Pabrik ini juga akan mendukung pasokan bahan baku dalam negeri bagi berbagai sektor industri, seperti pengolahan air, pemurnian alumina, pengolahan nikel, serta produksi sabun dan deterjen.
Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menekankan pentingnya investasi ini dalam mendorong industrialisasi dan substitusi impor. “Sektor kimia sangat penting dalam mendukung rantai nilai, mulai dari manufaktur hingga transisi energi,” katanya.
Sementara itu, CEO INA Ridha Wirakusumah mengatakan kolaborasi ini sejalan dengan mandat INA untuk memperkuat industri strategis nasional. “Proyek ini meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor,” ujarnya.
Saat ini proyek memasuki fase pertama yang fokus pada pembangunan fasilitas produksi utama. Fase kedua akan mencakup perluasan kapasitas dan pengembangan produk turunan berbasis klorin untuk mendukung efisiensi dan nilai tambah industri nasional. Studi kelayakan terkait fase lanjutan tengah berlangsung.