Cerita Petani di Gunung Kidul Manfaatkan Teknologi Modern untuk Jaga Pasokan Biomassa
Sebelumnya, Rumah Bibit di Gombang masih beroperasi dengan metode konvensional, di mana kegiatan penyiraman dan pemeliharaan dilakukan secara manual.
PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) berkomitmen untuk menjaga rantai pasok biomassa dengan memanfaatkan teknologi digital. Salah satu langkah yang diambil adalah pengembangan bibit tanaman energi seperti Kaliandra dan Indigofera, yang merupakan bagian dari upaya untuk menghadapi tantangan transisi energi dan mengurangi emisi karbon.
Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, menjelaskan bahwa pembibitan tanaman energi merupakan bagian penting dalam pengembangan biomassa sebagai sumber energi alternatif. Ini juga mendukung program pengurangan konsumsi batu bara melalui penggunaan biomassa atau cofiring di pembangkit listrik PLN.
Untuk merealisasikan hal ini, PLN EPI bekerja sama dengan petani di Gunung Kidul, Yogyakarta, yang tergabung dalam GAPOKTAN Tani Mulya di Kalurahan Gombang. Kerja sama ini dilakukan melalui program Electrifying Agriculture di Rumah Bibit Desa Berdaya Energi Gunung Kidul, yang memanfaatkan teknologi digital dalam proses pembibitan.
"Inisiatif ini merupakan wujud nyata sinergi antara transformasi energi bersih dan pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi digital," ungkap Mamit pada Jumat (24/10).
Sebelumnya, Rumah Bibit di Gombang masih beroperasi dengan metode konvensional, di mana kegiatan penyiraman dan pemeliharaan dilakukan secara manual, sehingga tidak efisien dalam penggunaan air dan kurang didukung oleh teknologi modern.
Penggunaan Teknologi Internet of Things (IoT) Semakin Meluas
Dengan adanya Electrifying Agriculture, sistem penyiraman dan perawatan tanaman di rumah bibit kini telah mengalami otomatisasi dan digitalisasi, memanfaatkan energi listrik sebagai sumber utama. Teknologi Internet of Things (IoT) yang diterapkan memungkinkan pemantauan kondisi tanaman secara langsung, mencakup suhu, kelembapan, dan kebutuhan air, sehingga proses pembibitan dapat dilakukan dengan lebih presisi, efisien, dan ramah lingkungan.
“Kini, dengan penerapan Electrifying Agriculture dan pemanfaatan IoT, Rumah Bibit mampu mengelola proses pembibitan secara cerdas dan efisien. Teknologi ini tidak hanya membantu pemantauan kondisi tanaman secara real-time, tetapi juga mendorong penggunaan energi bersih untuk mewujudkan pertanian modern yang berkelanjutan,” ujar Mamit.
Tanaman energi yang dikembangkan di Rumah Bibit Tanaman Multifungsi meliputi Kaliandra dan Indigofera, yang berfungsi sebagai bahan baku energi dan juga mendukung peternakan lokal. Rantingnya dapat dimanfaatkan untuk biomassa, sedangkan daunnya digunakan sebagai pakan ternak.
Peningkatan Penerapan Energi Bersih
PLN EPI mendorong percepatan penggunaan energi bersih di sektor pertanian dan peternakan melalui inovasi Electrifying Agriculture yang berbasis Internet of Things (IoT). Inisiatif ini juga bertujuan untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat pedesaan, sehingga mendukung pembangunan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Program Electrifying Agriculture merupakan bagian penting dari model Desa Berdaya Energi yang dirancang untuk memperkuat ekonomi lokal. Diharapkan, program ini dapat menjadi contoh yang dapat diterapkan di daerah lain yang memiliki potensi biomassa tinggi di Indonesia.
Ketua GAPOKTAN Tani Mulya, Satiman, menekankan bahwa penerapan sistem berbasis listrik dan digital memberikan manfaat langsung bagi kelompok tani, terutama dalam mengurangi biaya dan meningkatkan produktivitas di Rumah Bibit Gombang.
"Dengan adanya Electrifying Agriculture ini, kami dapat mengurangi biaya operasional melalui pemanfaatan energi listrik sebagai pengganti bahan bakar fosil, sekaligus meningkatkan efisiensi kerja dengan penggunaan peralatan listrik yang lebih cepat dan akurat," ungkap Satiman.
Melalui langkah ini, diharapkan para petani dapat lebih mudah mengakses teknologi modern yang mendukung pertanian yang lebih efisien dan ramah lingkungan.