BPS: Surplus Neraca Perdagangan Indonesia Capai USD 5,64 Miliar hingga April 2026
BPS mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai USD 5,64 miliar hingga April 2026. Kinerja positif ditopang ekspor nonmigas.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia masih membukukan surplus neraca perdagangan sepanjang Januari hingga April 2026 sebesar USD 5,64 miliar.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, mengatakan surplus tersebut terutama berasal dari perdagangan komoditas nonmigas yang terus mencatat kinerja positif. Sementara itu, sektor migas masih mengalami defisit.
"Hingga bulan April 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD 5,64 miliar. Surplus sepanjang periode Januari-April 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas USD 14,16 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit USD 8,52 miliar," kata Pudji, Selasa (2/6/2026).
Ekspor Tumbuh Ditopang Industri Pengolahan
BPS mencatat nilai ekspor Indonesia selama Januari-April 2026 mencapai USD 92,15 miliar atau meningkat 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut terutama didorong sektor industri pengolahan yang mencatat nilai ekspor sebesar USD 75,57 miliar atau tumbuh 9,78 persen secara tahunan.
Untuk pasar ekspor nonmigas, China masih menjadi tujuan utama dengan nilai mencapai USD 22,76 miliar atau berkontribusi 25,93 persen terhadap total ekspor nonmigas Indonesia.
Posisi berikutnya ditempati Amerika Serikat dengan nilai ekspor USD 10,17 miliar dan India sebesar USD 6,14 miliar. Ketiga negara tersebut menyumbang 44,52 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia.
Ekspor ke China didominasi produk besi dan baja, nikel beserta turunannya, serta bahan bakar mineral. Sementara ekspor ke Amerika Serikat banyak berasal dari mesin dan perlengkapan listrik, alas kaki, serta produk pakaian rajut.
Impor Naik, China Tetap Jadi Pemasok Utama
Di sisi lain, nilai impor Indonesia selama empat bulan pertama 2026 mencapai USD 86,51 miliar atau meningkat 13,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Impor nonmigas tercatat sebesar USD 73,58 miliar atau naik 12,70 persen, sedangkan impor migas mencapai USD 12,93 miliar atau tumbuh 17,58 persen.
BPS mencatat impor bahan baku dan barang penolong masih mendominasi dengan nilai USD 61,82 miliar atau naik 11,67 persen. Sementara impor barang modal mencapai USD 17,11 miliar dan tumbuh 19,02 persen. Adapun impor barang konsumsi tercatat USD 7,58 miliar atau meningkat 15,68 persen.
China tetap menjadi negara asal impor nonmigas terbesar bagi Indonesia dengan nilai USD 30,79 miliar atau setara 41,84 persen dari total impor nonmigas. Posisi berikutnya ditempati Jepang dan Australia yang masing-masing mencatat nilai impor sebesar USD 4,15 miliar.
Kontribusi ketiga negara tersebut mencapai 53,12 persen dari total impor nonmigas Indonesia selama Januari-April 2026.