Bos OJK apresiasi langkah BI terapkan GWM avarage
GWM-Primer atau simpanan minimum bank dalam rupiah atau valuta asing (valas) di BI saat ini sebesar 6,5 persen dari total Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengapresiasi langkah Bank Indonesia yang akan menerapkan Giro Wajib Minimum (GWM) secara average atau GWM Average. Menurut Muliaman, langkah ini akan membantu perbankan menjaga likuiditas.
Muliaman mengatakan, kondisi likuiditas perbankan saat ini masih sangat bagus. “Bank-bank itu taruh di BI bisa sampai Rp 300 triliun lebih. Likuiditas punya bank taruh di sana. Dari segi likuiditas itu uangnya ada,” ucap Muliaman di Yogyakarta, Kamis (24/11).
Sebagai informasi, GWM-Primer atau simpanan minimum bank dalam rupiah atau valuta asing (valas) di BI saat ini sebesar 6,5 persen dari total Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan.
Sebelum GWM Averaging diterapkan, bank setiap saat harus menaruh 6,5 persen dari total DPK di giro BI. Setelah GWM Averaging diterapkan, maka kewajiban bank dalam menaruh simpanan di giro BI akan dihitung secara rata-rata per periode, dan tidak setiap waktu.
"Semalam BI siapkan GWM average, bisa membuat ruangan tambahan bagi teman-teman perbankan, bisa memengaruhi kondisi likuiditas. Bisa membantu manajemen likuiditas perbankan. Kami apresiasi BI yang sudah istilahnya sudah memberikan ruangan likuiditas untuk manager lebih longgar," tutup Muliaman.
Baca juga:
Rupiah dibuka melemah kembali ke level Rp 13.500-an per USD
Menkeu soal rendahnya penerimaan pajak: Pegawai DJP bukan Superman
Menkeu akui OTT pejabat pajak lemahkan kepercayaan pada DJP
Jonan siapkan permen agar swasta bisa jual listrik ke masyarakat
Pemerintah ungkap penyebab pariwisata RI kalah dari Malaysia dkk
Ini 5 keuntungan punya bisnis sampingan untuk karyawan
Mangkir bayar pajak, Google terancam denda Rp 4 triliun