Bos BI: Tax Amnesty & pemangkasan anggaran jaga defisit tetap aman
Kementerian Keuangan memperkirakan defisit anggaran akan mencapai 2,5-2,7 persen tahun ini, lebih besar dibanding yang ditargetkan dari APBN-P 2016 sebesar 2,35 persen. Namun dengan optimalisasi perpajakan dan penghematan anggaran K/L diyakini mampu menjaga defisit tetap aman.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Matowardojo masih belum melakukan kajian terhadap potensi defisit anggaran yang mencapai 2,5 hingga 2,7 persen tahun ini, karena rendahnya penerimaan negara. Angka defisit tersebut lebih besar dibanding yang ditargetkan dari APBN-P 2016 sebesar 2,35 persen.
"Saya masih belum ada kajian soal itu, karena itu masih pesan awal yang kita dengar," ujarnya di komplek perkantoran Bank Indonesia, Jakarta, Senin (19/9).
Meski begitu, dia mengapresiasi langkah pemerintah untuk menjaga defisit anggaran tidak melampaui 2,5 persen. Salah satunya dengan optimalisasi penerimaan pajak melalui program pengampunan pajak atau Tax Amnesty serta pemotongan anggaran Kementerian dan Lembaga (K/L).
Dengan demikian, dia melihat bahwa kondisi fiskal masih sejalan dengan target yang telah diumumkan oleh pemerintah.
"Dan saya juga menyambut baik bahwa bukan hanya optimalisasi penerimaan pajak tetapi pembahasan dengan K/L untuk pengurangan budget yang tidak prioritas sudah mulai berjalan," tuturnya.
Baca juga:
Menkeu: Ada berita baik, penyerapan anggaran bisa 97,1 persen
Antisipasi lonjakan defisit anggaran, pemerintah siap tarik utang
Sri Mulyani bakal lapor ke Jokowi jika defisit anggaran melebar
Pemerintah dan DPR sepakat defisit anggaran turun jadi Rp 298,7 T
Menkeu Bambang perkirakan defisit anggaran 2015 capai 2,7 persen
Harga komoditas anjlok, defisit perdagangan Indonesia-China melebar
Wapres JK: Kita sedang cari cara kelola defisit anggaran