Aneh, Produksi Industri China Melemah di Tapi Penjualan Ritel Naik Tajam
Ini merupakan laju pertumbuhan paling lambat sejak November 2024.
Pertumbuhan produksi industri China melambat ke titik terendah dalam enam bulan pada Mei 2025, sementara penjualan ritel mencatat kenaikan tercepat sejak akhir 2023, menurut data resmi yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional pada Senin.
Dilansir dari Reuters, produksi pabrik tumbuh sebesar 5,8% secara tahunan, melambat dari 6,1% pada April, dan di bawah ekspektasi analis sebesar 5,9%. Ini merupakan laju pertumbuhan paling lambat sejak November 2024.
Sebaliknya, penjualan ritel naik 6,4% dibandingkan tahun sebelumnya, lebih tinggi dari 5,1% pada April dan mengalahkan proyeksi pasar sebesar 5,0%. Kenaikan konsumsi dipicu oleh belanja kuat selama liburan Hari Buruh dan awal festival belanja "618" yang dimajukan, serta insentif pemerintah untuk tukar tambah barang konsumen.
Tekanan Perdagangan dan Sektor Properti Jadi Penghambat
Pelemahan sektor industri terjadi di tengah gencatan senjata yang rapuh dalam perang dagang antara China dan Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa tarif ekspor China akan tetap tinggi, dengan total mencapai 55%, termasuk tarif lama sebesar 25% yang masih berlaku.
Sementara itu, ekspor China naik 4,8% pada Mei, namun pengiriman ke Amerika Serikat turun drastis sebesar 34,5%, penurunan terdalam sejak Februari 2020.
Sektor properti terus memberikan beban tambahan terhadap perekonomian. Harga rumah belum menunjukkan pemulihan setelah dua tahun stagnan, dan tidak ada tanda-tanda pembalikan tren dalam waktu dekat.
Stimulus dan Risiko ke Depan
Beijing telah meluncurkan serangkaian kebijakan stimulus, termasuk pemotongan suku bunga dan injeksi likuiditas, guna menahan dampak perlambatan ekonomi. Namun, sejumlah analis memperingatkan bahwa dukungan fiskal kemungkinan terbatas dan tantangan struktural masih membayangi.
“Gencatan senjata perdagangan AS–China tidak cukup untuk mencegah hilangnya momentum ekonomi bulan lalu,” kata Zichun Huang, Ekonom China di Capital Economics.
“Dengan tarif tinggi yang tetap berlaku dan stimulus fiskal yang menurun, pertumbuhan kemungkinan melambat lebih lanjut.”
Investasi aset tetap tumbuh 3,7% selama lima bulan pertama 2025 dibanding periode yang sama tahun lalu, di bawah ekspektasi 3,9%. Sebelumnya, pertumbuhan tercatat sebesar 4,0% untuk periode Januari–April.
Meskipun tekanan perdagangan meningkat, tingkat pengangguran perkotaan sedikit membaik, turun dari 5,1% menjadi 5,0% pada Mei.