Agar tak terus keok dari USD, semua transaksi harus gunakan Rupiah
Dunia usaha cukup banyak yang menggunakan transaksi secara nontunai dalam valas.
Catatan Bank Indonesia, Rupiah mengalami pelemahan 4,8 persen sejak akhir 2014. Kurs tengah Bank Indonesia mencatat, Rupiah kini di kisaran Rp 12.983 per USD setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh Rp 13.022 per USD.
Meski berulang kali menyatakan bahwa kondisi Rupiah masih aman dan tak mengganggu stabilitas perekonomian nasional, Bank Indonesia menyatakan perlunya langkah memperkuat Rupiah agar tak terus terpuruk dari dolar Amerika Serikat.
Bank sentral meminta seluruh transaksi di dalam negeri menggunakan Rupiah. Ini sebagai salah satu cara menyelamatkan Rupiah dari kedigdayaan dolar AS. Bukan tanpa sebab Gubernur BI Agus Martowardojo menyatakan itu.
Dari analisa BI, terpuruknya Rupiah karena kebutuhan dolar di dalam negeri tergolong tinggi. "Dunia usaha cukup banyak yang menggunakan transaksi secara nontunai dalam valas (valuta asing)," ujar Agus Martowardojo yang ditemui di Kementerian Keuangan, Jumat (6/3).
Dalam Undang-undang mata uang, semua transaksi di dalam negeri baik tunai maupun nontunai harus menggunakan Rupiah. Menurutnya, ini bisa menjadi jalan untuk menguatkan Rupiah.
"Kita ingin menjaga martabat Rupiah di Indonesia. Dan juga untuk menciptakan pasar valas yang lebih stabil dan juga menciptakan stabilitas sistem keuangan yang lebih baik," ujar Agus.
Pemerintah telah mengingatkan kepada pengusaha untuk melakukan lindung nilai atau hedging dalam pinjaman luar negeri. Selama ini pengusaha melakukan pinjaman luar negeri dengan mata uang asing. Sedangkan pendapatannya masih menggunakan Rupiah.
"Tapi kalau masih pengusaha indonesia tidak sabar dan masih tetap melakukan seperti itu nanti risikonya sangat jelas. Antara lain tadi, nilai tukar yang tadinya Rp 11.000 jadi Rp 13.000. Kalau pinjaman dalam valas, berapa ruginya. Jadi, pesan ini tolong disampaikan supaya mereka bukan hanya mendengar tapi paham dan melaksanakan kehati-hatian," jelas dia.
Dari catatan BI, pelemahan Rupiah terhadap dolar AS bukan yang terparah di dunia. Saat ini, Rupiah hanya melemah 4,8 persen, sedangkan mata uang Brazil atau Real mengalami depresiasi hingga 13 persen.
"Jadi akhir tahun sampai sekarang. Tapi kalau kita lihat di negara-negara berkembang, dipadankan dengan Indonesia, seperti Brazil, india, Turki. Lihat brazil, dia punya nilai tukar year to date, itu depresiasinya 13 persen. Turki depresiasinya 11 persen," pungkas dia.
Baca juga:
Menguat ke Rp 12.900, pelemahan Rupiah diyakini sementara
Gubernur BI: Jangan khawatir meski Rupiah tembus Rp 13.052 per USD
Anjloknya Rupiah tahun ini lebih parah dari sebelumnya
Wapres Jusuf Kalla: Bagus Rupiah melemah, bisa tingkatkan ekspor
Dolar naik, jangan kaget kalau ukuran tempe jadi lebih kecil