Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Anjloknya Rupiah tahun ini lebih parah dari sebelumnya

Anjloknya Rupiah tahun ini lebih parah dari sebelumnya Rupiah. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Eddy terlihat sibuk membereskan barang dagangannya di kawasan perbelanjaan elektronik Glodok, Jakarta. Tak seperti biasanya, kawasan ini sepi pengunjung.

Hanya beberapa toko yang terlihat melayani pembeli. Sisanya lebih banyak merapikan dan membereskan barang-barang.

"Kami terbebani dengan kondisi Rupiah anjlok, tahun ini lebih parah ketimbang tahun kemarin," ujar salah satu pedagang barang elektronik, Eddy kepada merdeka.com, di Jakarta, Selasa (3/3).

Dia menyadari, sepinya pembeli tak lepas dari makin mahalnya harga barang elektronik. Tapi itu tak bisa dihindari sebagai bagian tak terpisahkan dari anjloknya nilai tukar Rupiah yang hampir mendekati angka Rp 13.000 per dolar AS.

Kondisi ini dialami hampir sebagian besar pedagang dan distributor barang elektronik. Bahkan, Eddy dan kawan-kawan harus rela menerima jika keuntungan turun hingga 30 persen. "Biasanya per bulan bisa mencapai Rp 40 juta tapi saat-saat ini hanya Rp 30 juta saja," jelas dia.

Itu baru dari sisi keuntungan bulanan, belum lagi jika bicara soal penurunan omzet yang disebut-sebut menurun drastis. "Gara-gara harga elektronik naik ini, pendapatan kami sekarang turun drastis, penurunan omzet sampai 80 persen," jelas dia.

Pemerintah bisa saja menganggap biasa pelemahan Rupiah, tapi di mata pengusaha ini bisa jadi bencana. Sebab, kebanyakan barang elektronik didatangkan dengan cara impor. Otomatis sangat terpengaruh fluktuasi Rupiah.

"Produk elektronik kami memang kebanyakan barang impor dari luar negeri tapi ada juga yang lokal, kami memang sebagai pengusaha paling terkena dampaknya jika rupiah anjlok," ungkapnya.

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP