Dolar naik, jangan kaget kalau ukuran tempe jadi lebih kecil
Merdeka.com - Pergerakan nilai tukar Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika (USD). Data Bank Indonesia kemarin, nilai tukar Rupiah terhadap USD menyentuh angka Rp 12.993 per USD.
Pelemahan nilai tukar berdampak langsung pada pengusaha tempe tanah air. Pasalnya, para pengusaha tersebut mendapat bahan baku yaitu kedelai secara impor.
Ketua Asosiasi Tempe, Aip Syaefudin mengatakan para pengusaha tahu-tempe yang merasa terjepit dengan mahalnya harga kedelai akan menyiasati dengan mengurangi volume bahan baku serta mengurangi ukuran produk.
"Pertama mungkin para pengusaha tempe bakal menaikkan harga tempenya, dan kedua akan mengurangi ukuran tempe kalau biasa 250 gram mungkin bisa 200 gram," ujarnya ketika dihubungi merdeka.com, Jakarta, Senin (2/3).
Dengan mengurangi ukuran tempe, para pengusaha masih bisa mempertahankan keuntungan meski harga kedelai merangkak naik. Namun, meski mengurangi ukuran tempe berarti bukan mengurangi kualitas tempe. "Harga tempe naik Rp 500 untuk semua ukuran, mulai dari ukuran berat dua ons yang semula Rp 1.500 naik menjadi Rp 2.000," jelas dia.
Pemangkasan ukuran tempe dinilai jauh lebih efektif guna mempertahankan margin keuntungan sekaligus mempertahankan pangsa pasar agar tidak ikut terdampak dengan kenaikan harga kedelai serta sejumlah kebutuhan lainnya. "Mudah-mudahan dalam dua-tiga bulan ini (pelemahan rupiah) tidak berlanjut," tegasnya.
Selain mengenai harga dan ukuran tempe, Aip menyarankan kepada pemerintah untuk segera mengambil langkah strategis guna mengantisipasi merosotnya nilai tukar Rupiah. Pemerintah disarankan untuk mengambil paket kebijakan atau insentif untuk usaha padat karya.
"Pemerintah bantulah dengan adanya kedelai lebih murah terutama kedelai lokal," tutupnya.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya