Tertangkap Kamera, Momen Polisi Sengaja Tembak Reporter Cantik saat Demo Rusuh di Los Angeles Sampai Teriak Kesakitan
Polisi sengaja menembak reporter perempuan saat liputan demo di Los Angeles.
Amerika Serikat ricuh akibat aksi unjuk rasa terkait kebijakan imigrasi yang berlangsung di Kota Los Angeles. Akibatnya, Presiden AS, Donald Trump, merespons dengan mengerahkan 2.000 personel Garda Nasional.
Dalam sebuah video viral di media sosial, seorang reporter perempuan sebuah stasiun televisi yang sedang meliput kejadian demonstrasi tersebut justru mendapatkan perlakuan yang represif dari polisi. Ia ditembak oleh polisi di bagian kakinya saat bekerja.
Reporter tersebut sampai merasa kesakitan dan berteriak kencang. Hal itu menjadi viral dan menimbulkan perbincangan di media sosial. Simak ulasan lengkapnya sebagai berikut.
Reporter Ditembak Polisi di Los Angeles
Momen itu diunggah dalam sebuah video di akun media sosial Instagram @trtworld. Dalam video tersebut terlihat seorang reporter perempuan cantik bernama Lauren Tomasi yang berasal dari News Australia sedang melakukan liputan di lokasi demonstrasi.
Namun, beberapa saat setelahnya, Lauren ditembak oleh seorang polisi yang sedang melakukan pengamanan di lokasi unjuk rasa. Lokasi penembak berada tepat di belakang Lauren. Akibatnya ia langsung merasa kesakitan dan bahkan sampai berteriak kencang.
Diketahui, tembakan yang diduga peluru karet tersebut dilakukan oleh polisi LAPD dan mengenai kaki bagian kiri Lauren. Momen tembakan tersebut tertangkap oleh kameramen yang juga ikut dalam proses liputan tersebut.
“Lauren Tomasi, seorang reporter dari 9 News Australia, ditembak di kaki dengan peluru karet oleh seorang polisi LAPD yang tampaknya mengarahkannya langsung saat ia meliput bentrokan antara demonstran anti-ICE dan polisi,” tulis keterangan video di akun @trtworld.
Demonstrasi di Amerika Serikat
Bentrokan akibat demonstrasi di Los Angeles, negara bagian California, Amerika Serikat terus berlanjut. Unjuk rasa tersebut terjadi karena menentang operasi razia imigrasi yang dilakukan oleh pemerintah AS.
Demonstrasi tersebut dilakukan sejak Sabtu (7/6) kemarin. Mereka menentang operasi imigrasi yang dilakukan oleh Lembaga Bea Cukai dan Imigrasi AS (ICE).
Merespons kerusuhan tersebut, Donald Trump menurunkan sekitar 2.000 personel Garda Nasional AS yang belum pernah diturunkan kembali sejak tahun 1992. Bahkan, Menteri Pertahanan AS mengancam akan menurunkan marinir jika keadaan belum bisa dikendalikan.
"(Garda Nasional) diterjunkan bukan karena kekurangan aparat penegak hukum, tetapi mereka (pemerintah federal) menginginkan tontonan. Jangan gunakan kekerasan. Protes lah dengan damai," kata Gubernur California, Gavin Newsom yang dikutip Al Jazeera.
Kericuhan tersebut menyebabkan sebagian demonstran mengenakan masker gas dan mengibarkan bendera Meksiko saat melakukan protes. Demonstran bahkan sampai melempari polisi dengan batu, botol, dan kembang api kepada petugas.
Sementara itu, Wali Kota Los Angeles, Karen Bass mengatakan jika kekacauan yang terjadi di wilayahnya adalah sebuah provokasi yang dilakukan oleh pemerintah. Sehingga menimbulkan kepanikan dan ketakutan di kalangan masyarakat.
“Yang kami lihat di Los Angeles adalah kekacauan yang diprovokasi oleh pemerintah,” katanya dikutip dari @aljazeeraenglish.
“Dan ketika Anda menjalankan karavan lapis baja melalui jalan-jalan kami, Anda menimbulkan ketakutan, dan Anda menimbulkan kepanikan. Dan mengerahkan pasukan federal adalah eskalasi yang berbahaya,” lanjutnya.