Sifat Asli Bupati Indramayu Lucky Hakim Dibongkar Dedi Mulyadi Gara-Gara Nekat Liburan ke Jepang saat Lebaran, Bikin Kecewa
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi ungkap kekecewaanya dengan Lucky Hakim.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi merasa kecewa terhadap Bupati Indramayu, Lucky Hakim usai tidak merespons pesan atau telepon darinya.
Kekecewaanya memuncak setelah Dedi mengetahui Lucky Hakim pergi berlibur ke Jepang tanpa izin di momen lebaran.
Dalam keterangannya, Dedi mengaku beberapa kali menghubungi Lucky namun tidak dibalas. Justru ia menyadari yang bersangkutan berada di luar negeri.
“Ga ada (izin atau pemberitahuan ke Jepang). Bahkan saya beberapa kali WA enggak direspons. Saya beberapa kali WA memberitahukan kegiatan, enggak ada respon. Saya pikir karena jarang buka WA. Ternyata ada di Jepang,” ucap Dedi Mulyadi.
Tidak Izin Pimpinan
Sebagai pimpinan, Dedi Mulyadi mengaku tidak pernah dihubungi atau mendapat informasi kepergian Lucky Hakim ke Jepang.
Menurutnya, sebagai kepala daerah, seharusnya Lucky tetap berada di tempat dan melakukan pengawasan selama mudik lebaran. Dedi mengatakan sebagai pejabat publik, harus bisa bersilaturahim dengan masyarakatnya.
“Seharusnya di bulan lebaran, pejabat itu ada di tempat. Silaturahim kita, halal bihalal kita dengan warga kita, bukan warga luar negeri,” ucap Dedi.
“Kemudian, problem pada saat lebaran seperti macet, situasinya juga (potensi) bencana, harus standby, bukan ke luar negeri apalagi tanpa izin,” jelasnya.
Alasan Lucky Hakim pergi ke Jepang
Lucky Hakim mendapat panggilan dari Inspektorat Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Itjen Kemendagri) pada Selasa (8/4) lalu guna diperiksa terkait kunjungannya ke Jepang.
Dalam pemeriksaan, Lucky dicecar 43 pertanyaan terkait keberangkatannya ke Jepang saat masa Idul Fitri 2025. Lucky mengakui perbuatan itu sebagai sesuatu yang salah.
"Jadi yang saya lakukan itu adalah satu perbuatan, niat saya tidak seperti itu. Tapi karena sudah terlanjur saya lakukan ini saya harus siap dengan segala konsekuensi yang sudah saya lakukan," kata Lucky kepada wartawan di Kantor Kemendagri.
Meski begitu, Lucky mengaku sama sekali tidak berniat untuk bolos kerja. Pikirnya, itu masih dalam masa cuti lebaran Idul Fitri 1446 Hijriah.
"Tapi saya ingin menjelaskan kepada Pak Gubernur, kepada Pak Menteri Kepada Pak Wamen bahwa saya tidak berniat membolos, saya tidak berniat meninggalkan kewajiban," tegasnya.
Kepergian Lucky dilakukan usai Lebaran, saat kantor-kantor pemerintahan di Indramayu tutup dan para staf masih mudik. Dia juga mengaku merasa sendiri di Pendopo dan akhirnya memilih liburan bersama keluarga ke Jepang.
"Saya tidak berkata bahwa ini benar. Tidak. Itu salah, cuma kenapa saya melakukan kesalahan? Karena saya berpikir bahwa kantor sudah tutup semua, Saya sendirian Maka saya ke keluarga pergi ke Jepang. Dan saya kembali sebelum kantor buka," ucap dia.
Siap Terima Konsekuensi
Lucky Hakim mengaku siap menerima konsekuensi dan bertanggung jawab atas polemiknya liburan ke Jepang tanpa izin Gubernur dan Kemendagri.
"Saya siap bertanggungjawab dan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak terkait untuk menilai. Ini jadi pembelajaran bagi saya ke depan," ujarnya di Pendopo Bupati Indramayu, Jabar, Selasa (8/4).
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa rencana ke Jepang sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelum pilkada berlangsung. Bahkan tiket perjalanan sudah dibeli sejak Desember 2024 dengan tanggal kepergian 2 April dan kepulangan 11 April 2025.
"Selama kampanye saya jarang di rumah. Karena itu, saya berjanji kepada keluarga, khususnya anak-anak, untuk mengajak mereka liburan setelah pilkada usai," jelas Lucky, seperti dikutip Antara.
Lucky pun sebenarnya sudah mengajukan permohonan izin namun tidak diproses lantaran pengajuannya dianggap kurang dari 14 hari kerja sesuai ketentuan.
"Waktu itu saya merasa pengajuan sudah cukup, tapi staf menjelaskan soal aturan 14 hari kerja. Akhirnya saya memilih memajukan kepulangan jadi tanggal 6 April agar bisa kembali bekerja pada 8 April," katanya.
Lebih lanju, ia mengaku baru mengetahui adanya surat edaran tentang pembatasan perjalanan selama masa libur Lebaran ketika sudah berada di Jepang, karena belum sempat membaca seluruh dokumen yang masuk.
"Mungkin saya kurang teliti. Banyak surat masuk setiap hari dan saya belum sempat membaca semuanya," tandasnya.