Satelit Ungkap Israel Sedang Bangun Benteng di Gaza, Segudang Pengkhianatannya pada Gencatan Senjata dengan Hamas Terbongkar
Israel disebut membangun benteng di perbatasan di tengah genjatan senjata, dan melakukan pelanggaran perjanjian.
Israel telah melakukan sejumlah pelanggaran kesepakatan gencatan senjata sejak pertama kali dilakukan pada 19 Januari 2025 lalu. Hingga saat ini, Israel masih terus menggempur Gaza hingga menewaskan sejumlah penduduk.
Pasukan militer Israel bahkan disebut membangun sebuah benteng di seberang penyeberangan Rafah meski gencatan senjata sudah disepakati. Hal tersebut seperti dikutip dari laman Al Jazeera, Minggu (16/2).
Beberapa gambar yang diambil menggunakan satelit antara tanggal 19 dan 21 Januari menunjukkan jika tentara Israel membangun benteng pasir dan sebuah pos militer baru di sebelah utara persimpangan dekat dengan Rafah.
Tentara Israel juga dikatakan telah membangun jalan sepanjang 1,7 km (1,1 mil) yang mengelilingi persimpangan, sejajar dengan benteng pasir. Mereka bahkan melarang ribuan warga Rafah keluar dari rumah, dan tak ragu menembaki orang-orang yang mencoba berusaha pulang ke Gaza.
Israel Langgar Kesepakatan
Sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang dimulai pada pertengahan Januari, Israel setuju untuk mengurangi pasukannya di wilayah Gaza sebelum menarik pasukannya sepenuhnya pada hari ke-50 perjanjian tersebut.
Namun, analisis yang dilakukan terhadap citra satelit yang diambil antara 19 Januari dan 1 Februari menunjukkan tentara Israel terus melanjutkan pembangunan di wilayah perbatasan. Selain itu, mereka juga tetap menghancurkan dan melibas 64 bangunan rumah warga di kota Rafah.
"Ini adalah kejahatan perang karena mereka menghancurkan rumah-rumah tempat tinggal," kata analis pertahanan Palestina Hamze Attar dikutip dari Aljazeera.
Israel Persulit Bantuan Masuk ke Gaza
Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan di Gaza Munir al-Bursh mengatakan, bahwa serangan Israel telah menewaskan sekitar 118 orang sejak perjanjian gencatan senjata mulai berlaku.
Selain pelanggaran gencatan senjata secara militer, Israel juga tidak mengizinkan bantuan kemanusiaan penting dalam jumlah yang cukup seperti makanan, bahan bakar, tenda, dan tempat penampungan darurat untuk masuk ke wilayah Gaza.
Walikota Rafah Ahmed al-Sufi mengatakan sebagian besar penduduk kota tersebut masih mengungsi, dengan sekitar 200.000 orang yang berlindung di daerah al-Mawasi Khan Younis dan lokasi lain di Gaza, tidak dapat pulang ke rumah.
Israel juga mengingkari kesepakatan perihal tenda pengungsian yang dikabarkan bakal memasuki Gaza usai kesepakatan gencatan senjata berlangsung. Dalam perjanjian, 200.000 tenda telah ditetapkan pada tahap pertama periode.
Namun sejauh ini hanya 10 persen yang diperbolehkan masuk ke Gaza – pada pertengahan tahap pertama – dan tidak ada satu pun dari 60.000 rumah mobil yang dijanjikan.
Korban Terluka Tak Diizinkan Keluar Gaza
Israel juga masih terus melakukan kekejaman kepada penduduk Gaza. Bagaimana tidak, mereka justru masih memperlakukan korban terluka dengan sewenang-wenang.
Seperti yang dikutip dari Al Jazeera, setidaknya 50 orang yang terluka seharusnya dapat diizinkan keluar dari Gaza setiap harinya dengan anggota keluarga yang mendampingi.
Jika sesuai isi kesepakatan, korban terluka yang bisa mendapatkan perawatan di luar Gaza itu telah mencapai 1.000 orang. Namun menurut data dari Kementerian Kesehatan, korban terluka yang mendapat akses keluar dari Gaza hanya berjumlah 120 pasien saja.
Hamas Protes Pengkhianatan Israel atas Perjanjian Gencatan Senjata
Dalam keterangannya seperti yang dikutip dari Al Jazeera, Hamas melalui juru bicaranya Abu Obeida menuturkan, gencatan senjata yang telah dilanggar Israel membuat para pejuang Palestina itu menunda melepaskan sandera Israel selanjutnya.
“Pimpinan perlawanan memantau pelanggaran musuh dan ketidakpatuhan mereka terhadap ketentuan perjanjian … Sementara itu, perlawanan memenuhi semua kewajibannya,” kata Abu Obeida.
Namun, reaksi Hamas justru membuat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump hingga Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu naik darah. Trump diketahui memberi usulan ke Israel agar membatalkan kesepakatan gencatan senjata jika seluruh tahanan Israel tak juga dibebaskan.
Sebelumnya, Trump turut memberi tekanan pada Yordania dan Mesir untuk menerima warga Palestina dalam rencana agar Gaza selanjutnya dapat diambil alih Amerika.
Netanyahu bahkan diketahui ikut mengancam bakal melanjutkan perang jika para tawanan tak kunjung dilepaskan maksimal. Kini, para pejabat Israel pun dilaporkan tengah bersiap untuk menjalankan perang kembali di Gaza dalam skala penuh.
"Jika Hamas tidak mengembalikan sandera kami paling lambat Sabtu siang (10:00 GMT), gencatan senjata akan berakhir, dan (tentara Israel) akan kembali melakukan pertempuran sengit hingga Hamas akhirnya dikalahkan," kata Netanyahu dalam sebuah posting di X.
Sikap Israel tersebut pun banyak dianggap curang dan tidak tepat. Padahal dari sisi Hamas sendiri, hal itu dilakukan sebagai buntut dari ketidakpatuhan Israel atas isi perjanjian yang telah disepakati.
Hamas kemudian menepati janjinya kembali melepaskan 3 sandera Israel Sabtu kemarin, yang kemudian diikuti Israel melepaskan tahanan Palestina.