Potret Sekolah Rakyat di Sentra Handayani, Haram Gadget dan Penerapan Disiplin Tinggi
Gedung milik Kemensos itu kini dialihfungsikan sementara sebagai Sekolah Rakyat dan menampung 75 pelajar, terdiri dari laki-laki dan perempuan secara seimbang.
Sudah hampir dua pekan sejak Sekolah Rakyat resmi dimulai pada 14 Juli 2025. Program ini menjadi tonggak penting dalam masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, yang untuk pertama kalinya berhasil mengoperasikan 100 Sekolah Rakyat secara serentak di seluruh Indonesia.
Sebagai pelaksana utama, Kementerian Sosial menyatakan rasa syukur atas realisasi program ini. Ribuan anak dari keluarga prasejahtera kini memiliki kesempatan mengenyam pendidikan gratis dengan sistem berasrama.
"Sekolah Rakyat ini, seperti yang sering disampaikan Bapak Presiden Prabowo, adalah untuk keluarga yang kurang mampu, keluarga yang punya potensi putra-putrinya putus sekolah, atau bahkan sudah putus sekolah. Sebanyak 100 titik pertama ini sudah ada 9.755 siswa, 1.554 guru dan 3.390 tenaga Pendidikan,” kata Menteri Sosial Saifullah Yusuf alias Gus Ipul, dikutip dari situs resmi Kemensos, Kamis (24/7/2025).
Mengintip Aktivitas Sekolah Rakyat di Sentra Handayani
Reporter Liputan6.com mengunjungi salah satu sekolah yang berlokasi di Jakarta Timur, tepatnya di Sentra Handayani. Gedung milik Kemensos itu kini dialihfungsikan sementara sebagai Sekolah Rakyat dan menampung 75 pelajar, terdiri dari laki-laki dan perempuan secara seimbang.
Kepala Sekolah Rakyat Sentra Handayani, Regut Sutrasno, menjelaskan bahwa tahap awal kegiatan belum berfokus pada materi pelajaran yang berat. Saat ini, anak-anak masih menjalani proses adaptasi dengan lingkungan baru yang jauh dari rumah.
"Kita masih fokus ke Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Mengutamakan kenyamanan dan adaptasi anak-anak terutama karena mereka tinggal di asrama dan jauh dari orang tua sehingga kegiatan di sini harus nyaman dan menyenangkan agar menghindari stres pada anak," ujar Regut dalam kegiatan Hari Anak Nasional, Kamis (24/7/2025).
Selain adaptasi emosional, Regut menyebut pentingnya membentuk pola hidup sehat dan disiplin. Mulai dari membiasakan bangun subuh, menjauhi kebiasaan begadang, hingga menjalankan jadwal harian yang teratur dari pagi hingga malam.
"Anak-anak dilatih pola hidup teratur: bangun pagi, salat subuh, kuliah tujuh menit (kultum), senam, mandi, sarapan, dan masuk kelas. Menjaga disiplin waktu masih menjadi tantangan, seperti tidak keterlambatan masuk kelas, itu setiap hari," tambahnya.
Tanpa Gawai, Lebih Fokus dan Mandiri
Salah satu tantangan utama di awal adalah memutus kebiasaan anak terhadap penggunaan gawai. Sekolah Rakyat melarang keras penggunaan ponsel dan perangkat sejenis untuk menciptakan ruang belajar yang lebih fokus dan membangun interaksi langsung antar siswa.
"Anak-anak tidak diizinkan membawa gadget untuk menjaga fokus. Anak juga dilatih menjaga kebersihan diri dan lingkungan (mandi, membersihkan kamar, piket harian). Kegiatan akhir pekan mereka mencuci pakaian sendiri pada Sabtu, menggosok pakaian pada Minggu," jelas pria asal Jawa Tengah ini.
Meski disiplinnya ketat, pendekatan yang digunakan sangat humanis. Tidak ada hukuman fisik, melainkan pembinaan berbasis empati, komunikasi, dan kedekatan emosional.
"Pendekatan humanis tanpa hukuman fisik atau bicara yang keras, anak-anak ditangani secara komunikatif. Kita menumbuhkan empati, kasih sayang, dan kedekatan emosional," tegas Regut.
Ia juga bersyukur karena sejauh ini belum ada siswa yang mengundurkan diri, meski harus berpisah dengan keluarga. Peran guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping dan wali asuh.
"Setiap malam kami adakan sesi refleksi dan curahan pendapat. Tujuannya melatih keberanian menyampaikan yang dirasakan, meningkatkan rasa percaya diri. Kami sampaikan bahwa anak-anak ini adalah para 'pejuang tangguh'. Satu wali asuh mendampingi 10 pelajar dan berperan penting sebagai orang tua kedua bagi mereka," ujar Regut.
Tawa dan Harapan Anak-anak Sekolah Rakyat
Di tengah suasana belajar yang baru, para pelajar tampak mulai menikmati prosesnya. Muhammad Faiz, siswa kelas 7, tampak ceria bermain bersama dua temannya, Arifin dan Gilang. Meski baru saling mengenal sejak 14 Juli, ketiganya sudah terlihat akrab.
"Senang sekali bisa bermain bersama teman-teman, enak!," ucap Faiz penuh semangat.
Ia mengakui, kehadiran teman-teman sangat membantu meredakan rasa rindu pada keluarganya. Ia juga merasa sangat bersyukur bisa mengenyam pendidikan gratis dengan fasilitas asrama, yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan.
"Bersama teman-teman, Faiz ingin belajar bareng," ucapnya mantap.
Arifin, yang dulunya gemar bermain gawai hingga larut malam, kini mengaku sudah meninggalkan kebiasaan itu. Ia mengaku sempat pesimis, namun kini justru menikmati hari-hari tanpa ponsel.
"Semua sekarang bareng teman, tidur, makan, salat, belajar setiap hari jadi senang banyak temannya," kata Arifin.
Sementara itu, Gilang dari Jakarta Utara merasa senang bisa belajar menggunakan laptop yang disediakan sekolah. Sebagai anak dari keluarga kurang mampu, ia menyebut komputer sebagai barang mewah yang sulit ia akses sebelumnya.
"Selain main dan belajar bareng, menggunakan komputer menjadi kesenangan saya karena sebelumnya tidak pernah," ujar Gilang.
Tentu saja, mereka juga punya keluhan. Salah satunya soal menu makanan yang kadang tidak sesuai selera. Namun mereka paham bahwa semua aturan dan kebiasaan baru ini bertujuan untuk membentuk kedisiplinan dan karakter yang kuat.
"Semoga kalau sudah lulus, bisa menjadi seorang yang lebih baik lagi," harap mereka serempak.