Pengorbanan Cinta Dedi Mulyadi, Rela Puasa 40 Hari Demi Kokom Wanita Idaman
Dedi mengenang saat ia pernah ditolak oleh wanita pujaan hati, meskipun telah melakukan berbagai bentuk "tirakat" termasuk puasa 40 hari demi cinta.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menceritakan kisah masa remajanya yang penuh perjuangan dan keprihatinan.
Dalam sebuah acara bersama guru dan siswa di Gedung Sabuga, Dedi mengenang saat ia pernah ditolak oleh wanita pujaan hati, meskipun telah melakukan berbagai bentuk "tirakat" termasuk puasa 40 hari demi cinta.
Dalam unggahan YouTube LEMBUR PAKUAN CHANNEL yang dikutip, Sabtu (23/8) Dedi mengungkapkan bahwa sejak kecil dirinya kerap menjadi sasaran perundungan karena kondisi fisiknya yang kurus, kulit gelap, dan tubuh yang penuh borok.
Ia juga dibesarkan di lingkungan sederhana, dan harus menabung sendiri untuk membeli sepeda seharga Rp3.500, yang digunakannya sebagai alat transportasi ke sekolah.
"Ada masa saya ke sekolah naik sepeda sendiri, hasil beli dari uang celengan kaleng. Saat teman-teman lain naik motor, saya masih mengayuh sepeda," ujarnya mengenang.
Pengalaman pahit datang ketika duduk di bangku SMA. Dedi mengaku pernah jatuh hati pada seorang gadis bernama Komaria, yang akrab dipanggil "Kokom", dan seorang lainnya bernama Nur.
Namun cintanya kandas sebelum berkembang, surat cinta yang ditulis dengan penuh harapan tidak pernah mendapat balasan.
Bahkan, kata Dedi, demi menarik perhatian Kokom, ia sempat melakukan serangkaian "tirakat" seperti puasa selama 40 hari, mutih (hanya makan nasi putih dan air putih), hingga mati geni (berdiam diri dalam gelap selama tiga hari tiga malam tanpa berbicara atau keluar rumah).
"Waktu itu saya puasa 40 hari demi Kokom. Sudah sampai mutih, mati geni, mandi 7 sumur, semua saya jalani. Tapi tetap saja tidak dibalas," ujar Dedi.
Meski pada akhirnya Kokom dikabarkan menikah dengan seorang anggota polisi, Dedi mengaku tidak menyesal.
Menurutnya, pengalaman tersebut justru mengajarkannya arti kerja keras dan ketulusan dalam perjuangan hidup, bukan hanya demi cinta, tapi juga pembentukan karakter.
"Pada akhirnya, semua tirakat itu bukan untuk Kokom, tapi untuk saya sendiri. Saya belajar bahwa untuk meraih sesuatu, kita harus bekerja dan berkorban," katanya.