Ketegangan Memuncak Saling Serang, Iran Akan Gunakan Segala Cara Tuk Pertahanakan Fasilitas Nuklir
Saling serang dalam waktu yang hampir bersamaan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam keras Amerika Serikat.
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah Israel meluncurkan serangan udara ke wilayah barat Iran pada Minggu pagi, menyusul serangan rudal yang diluncurkan Iran ke wilayah Israel.
Saling serang dalam waktu yang hampir bersamaan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam keras Amerika Serikat atas serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, menyebut Washington sebagai pihak yang menghasut perang.
Israel Targetkan Peluncur Rudal dan Jet Tempur di Iran Barat
Menurut laporan CNN, seorang peneliti senior dari lembaga pemikir Israel mengatakan bahwa serangan udara Israel ditujukan pada peluncur rudal yang baru saja digunakan untuk menyerang Israel, serta terhadap fasilitas militer yang dapat mengancam pasukan Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan.
"Apa yang telah ditembakkan Iran dalam satu jam terakhir merupakan serangan yang sangat kuat terhadap Israel. Sebagian berhasil kami cegat, dan sebagian lainnya tidak," ujar Miri Eisin dari Institut Internasional untuk Kontra-Terorisme.
Ia menambahkan, "Apa yang akan kami incar adalah peluncur-peluncur tersebut, yang baru saja menyerang kita satu jam yang lalu, karena Anda ingin menyerang peluncur tersebut. Itulah yang mencapai Israel".
Militer Israel mengonfirmasi bahwa dua jet tempur F-5 milik angkatan udara Iran dihancurkan di Bandara Dezful, provinsi Khuzestan, dalam serangan itu.
Selain itu, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan bahwa delapan peluncur rudal berhasil dinetralkan, enam di antaranya berada dalam posisi siap luncurkan.
Serangan ini merupakan bagian dari respons Israel terhadap gelombang rudal yang ditembakkan Iran pada Minggu pagi. Ini menandai serangan langsung pertama dari Iran ke Israel sejak AS mengumumkan bahwa mereka telah menyerang fasilitas nuklir Iran pada malam sebelumnya.
Iran Kecam Keras AS
Di tengah eskalasi konflik ini, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan pernyataan keras yang mengutuk tindakan militer Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir damai Iran. Dalam konferensi pers di Istanbul, Araghchi menuduh Washington sebagai biang keladi instabilitas regional.
"Republik Islam Iran mengutuk dengan sekeras-kerasnya agresi militer brutal Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir damai Iran. Ini adalah pelanggaran yang keterlaluan, serius, dan belum pernah terjadi sebelumnya terhadap prinsip-prinsip dasar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum internasional," kata Araghchi.
Ia menegaskan bahwa Iran berhak membela diri dari segala bentuk agresi, baik dari AS maupun Israel.
"Pemerintahan yang suka berperang dan melanggar hukum di Washington bertanggung jawab sepenuhnya atas konsekuensi berbahaya dan implikasi yang luas dari tindakan agresinya," tegasnya.
Lebih lanjut, Araghchi memperingatkan bahwa Iran akan menggunakan segala cara yang diperlukan untuk mempertahankan fasilitas nuklir, tidak hanya dari agresi militer AS tetapi juga dari tindakan sembrono dan ilegal Israel.
Ketegangan Regional Terus Meningkat
Konflik yang terus berkembang ini dikhawatirkan dapat memicu ketidakstabilan yang lebih luas di kawasan. Para pengamat internasional menyerukan agar semua pihak menahan diri dan kembali ke jalur diplomasi guna mencegah terjadinya perang terbuka antara negara-negara besar di Timur Tengah.
PBB sejauh ini belum mengeluarkan pernyataan resmi, namun beberapa negara menyerukan sidang darurat untuk membahas eskalasi terbaru ini.