Israel Ternyata Mau Membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Tapi Ditolak Trump
Israel ternyata berencana membunuh pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Israel ternyata berencana membunuh pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Namun, rencana itu diveto oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Israel memiliki kesempatan untuk membunuh pemimpin tertinggi Iran itu. Namun, Trump membujuk mereka untuk tidak melakukannya, kata dua pejabat AS yang tidak disebutkan namanya kepada Reuters.
"Apakah Iran sudah membunuh warga Amerika? Belum. Sampai mereka melakukannya, kita bahkan tidak akan membicarakan tentang mengejar pemimpin politik," kata seorang pejabat.
Para pejabat AS telah berkomunikasi terus-menerus dengan mitra mereka di Israel sejak Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran dalam upaya untuk mengakhiri program nuklir Teheran.
Netanyahu: Kami Melakukan Apa yang Perlu Kami Lakukan
foto: Reuters/ Elizabeth FrantzElizabeth Frantz Reuters/ Elizabeth FrantzElizabeth Frantz
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak berkomentar mengenai laporan rencana pembunuhan Ali Khamenei tersebut dalam wawancara hari Minggu dengan acara "Laporan Khusus Bersama Bret Baier" di Fox News.
"Ada begitu banyak laporan palsu tentang percakapan yang tidak pernah terjadi, dan saya tidak akan membahasnya," katanya.
"Tetapi saya dapat memberi tahu Anda, saya pikir kami melakukan apa yang perlu kami lakukan, kami akan melakukan apa yang perlu kami lakukan. Dan saya pikir Amerika Serikat tahu apa yang baik untuk Amerika Serikat," kata pria yang menjadi buronan Mahkamah Kriminal Internasional karena kejahatan perang di Gaza itu.
Dikutip dari Times of Israel, informasi Israel berencana membunuh Ali Khamenei tapi ditolak Trump itu dilaporkan Reuters pada hari Minggu dengan mengutip dua pejabat AS. Tak lama setelah itu, Associated Press (AP), Axios, dan Channel 13 Israel mengatakan bahwa mereka telah menerima konfirmasi mengenai rincian serupa dari pejabat Amerika.
Menurut AP, Yerusalem memberi tahu pemerintahan Trump dalam beberapa hari terakhir bahwa mereka telah mengembangkan rencana yang kredibel untuk membunuh Khamenei.
Setelah diberi pengarahan tentang rencana tersebut, Gedung Putih menjelaskan kepada pejabat Israel bahwa Trump menentang tindakan Israel tersebut, menurut seorang pejabat AS, yang tidak berwenang mengomentari masalah sensitif tersebut dan berbicara dengan syarat anonim.
Kepada Axios, seorang pejabat AS mengatakan: "Kami telah menyampaikan kepada Israel bahwa Presiden Trump menentang hal itu. Iran belum membunuh seorang pun warga Amerika dan pembahasan tentang pembunuhan para pemimpin politik seharusnya tidak dibahas."
Di Israel, Penasihat Keamanan Nasional Tzachi Hanegbi membantah laporan Reuters tersebut, menyebutnya sebagai "berita palsu". Juru bicara Netanyahu, Omer Dostri, juga menyebutnya "palsu".
Meskipun banyak laporan mengenai veto Trump, rincian mengenai rencana pembunuhan itu sendiri masih minim, dan laporan tersebut tidak menyebutkan apakah Israel secara aktif berupaya melaksanakan rencana itu.
Iran International, media berbasis di Inggris yang kritis terhadap Republik Islam, mengutip sumber diplomatik di Timur Tengah yang mengatakan Israel bisa saja membunuh Khamenei pada malam pertama operasi Kamis-Jumat, tetapi memilih untuk tidak melakukannya, demi memberi ulama berusia 86 tahun itu satu kesempatan terakhir untuk berkomitmen membongkar sepenuhnya program pengayaan uranium negaranya.
Media itu juga melaporkan, mengutip dua sumber terpercaya di Iran, bahwa Khamenei dibawa pergi malam itu ke bunker bawah tanah di Lavizan, timur laut Teheran, tempat ia sekarang bersembunyi bersama keluarganya.
Sumber diplomatik tersebut menambahkan serangan Israel pada hari Minggu terhadap pesawat pengisian bahan bakar Iran di kota Mashhad, sekitar 2.300 kilometer (1.430 mil) dari Israel, merupakan peringatan bagi Khamenei bahwa tidak ada bagian negara itu yang aman baginya.