LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. TRENDING

Gara-Gara Sepatu Bau, Peneliti India Dapat Penghargaan Ig Nobel

Dua peneliti India terinspirasi sepatu bau berhasil menciptakan solusi inovatif yang membawa mereka meraih penghargaan ilmiah bergengsi dengan sentuhan humor.

Jumat, 03 Okt 2025 21:23:00
lifestyle
Ilustrasi rak sepatu. (dok. Unsplash/Bryan White) (© 2025 Liputan6.com)
Advertisement

Sepatu yang berbau tidak hanya membuat kita merasa tidak nyaman, tetapi juga dapat memengaruhi rasa percaya diri. Mengingat banyaknya orang yang mengalami masalah ini, dua peneliti dari India melihat adanya peluang untuk melakukan penelitian ilmiah terkait fenomena tersebut.

Vikash Kumar, seorang asisten profesor desain di Shiv Nadar University dekat Delhi, bersama mantan mahasiswanya, Sarthak Mittal, melakukan studi mengenai dampak bau sepatu terhadap pengalaman pengguna rak sepatu. Penelitian mereka berhasil meraih penghargaan Ig Nobel, yang merupakan penghargaan untuk penelitian ilmiah yang unik dan inovatif meskipun terkesan konyol.

Dalam makalah yang dipublikasikan, mereka mengungkapkan, "Kami melihat sepatu bau sebagai peluang untuk mendesain ulang rak sepatu tradisional agar pengalaman penggunanya lebih baik," seperti dikutip dari BBC pada Kamis, 2 Oktober 2025.

Ide ini muncul dari pengamatan sederhana bahwa koridor asrama sering dipenuhi dengan sepatu yang ditinggalkan di luar kamar. Awalnya, tujuan mereka adalah untuk menciptakan rak sepatu yang lebih estetis, tetapi mereka menyadari bahwa masalah utama bukanlah kekurangan ruang, melainkan bau yang disebabkan oleh sepatu yang sering dipakai dan berkeringat.

Advertisement

Hasil Survei Mahasiswa Mengenai Sepatu yang Berbau

Ilustrasi rak sepatu. (dok. Unsplash/Bryan White) © 2025 Liputan6.com

Kumar dan Mittal melakukan penelitian terhadap 149 mahasiswa di universitas, di mana 80 persen dari mereka adalah laki-laki, untuk mengeksplorasi pengalaman individu terkait sepatu yang berbau. Temuan mereka mengungkapkan fakta yang jarang diungkapkan secara terbuka, di mana lebih dari setengah responden merasa malu dengan sepatu mereka sendiri atau sepatu orang lain.

Hampir semua peserta menyimpan sepatu di rak di rumah, tetapi sangat sedikit yang mengetahui adanya produk penghilang bau yang tersedia di pasaran. Berbagai cara tradisional seperti memasukkan kantong teh ke dalam sepatu, menaburkan soda kue, atau menyemprotkan deodoran ternyata tidak efektif.

Advertisement

Sementara masalah bau mungkin terlihat sepele, dampaknya cukup signifikan dalam pengalaman pengguna. Mittal menekankan, "Ini bukan tentang ruang atau kekurangan rak sepatu; ada banyak ruang. Masalahnya adalah keringat yang sering dan penggunaan sepatu yang terus-menerus membuatnya bau."

Melalui penelitian lebih lanjut, kedua peneliti menemukan bahwa bakteri Kytococcus sedentarius adalah penyebab utama bau yang muncul di sepatu yang lembap. Mereka melakukan eksperimen menggunakan sepatu milik atlet universitas yang memiliki bau yang sangat kuat.

Penelitian ini menunjukkan betapa pentingnya memahami faktor penyebab bau pada sepatu dan mencari solusi yang lebih efektif untuk mengatasinya. Dengan demikian, hasil penelitian ini dapat membantu masyarakat untuk lebih menyadari masalah ini dan mencari cara yang lebih baik dalam menjaga kebersihan sepatu mereka.

Percobaan Menggunakan Cahaya UVC untuk Menghilangkan Bau

Ilustrasi rak sepatu. (dok. Unsplash/Bryan White) © 2025 Liputan6.com

Fokus utama dari cahaya UVC terletak pada area dekat jari kaki, mengingat di lokasi tersebut terjadi penumpukan bakteri yang paling signifikan. Berdasarkan hasil pengukuran, terpapar cahaya UVC selama 2 hingga 3 menit sudah cukup untuk membunuh bakteri dan menghilangkan bau yang tidak sedap.

Namun, penting untuk diperhatikan bahwa penggunaan cahaya dalam waktu yang terlalu lama dapat berakibat pada kerusakan pada karet sepatu.

Pengukuran deskripsi bau sebelum dan sesudah terpapar UVC juga dilakukan. Pada awalnya, bau yang terdeteksi adalah "kuat, menusuk, seperti keju busuk", tetapi setelah dua menit, bau tersebut berkurang menjadi "sangat rendah, bau karet terbakar ringan".

Setelah empat menit, bau berubah menjadi "bau karet terbakar rata-rata". Enam menit setelah paparan, sepatu tetap bebas bau dan cukup dingin, sementara paparan selama 10 hingga 15 menit dapat mengubah bau menjadi "kuat seperti karet terbakar" dan juga memanaskan sepatu.

Penelitian yang menarik mengenai rak sepatu berlampu UVC yang mampu menghilangkan bau ini telah membawa dua peneliti asal India meraih penghargaan ilmiah yang bergengsi dan penuh humor. Penelitian ini membuktikan bahwa durasi waktu adalah faktor penting dalam penggunaan UVC untuk tujuan sterilisasi sepatu.

Prototipe Rak Sepatu dan Penghargaan Ig Nobel

Ilustrasi rak sepatu. (dok. Unsplash/Bryan White) © 2025 Liputan6.com

Hasil penelitian ini menghasilkan prototipe rak sepatu yang dilengkapi dengan tabung UVC. Rak ini tidak hanya berfungsi untuk menyimpan sepatu, tetapi juga untuk mensterilkannya, sehingga meningkatkan pengalaman pengguna dengan menjaga sepatu tetap bebas dari bau.

Meskipun awalnya tidak banyak dipublikasikan, tim Ig Nobel di Amerika menemukan makalah ini dan menghubungi para peneliti. Ig Nobel, yang disponsori oleh kelompok Harvard-Radcliffe dan diadakan oleh jurnal Annals of Improbable Research, memberikan penghargaan kepada ide-ide ilmiah yang lucu namun kreatif.

"Penghargaan ini bukan tentang mengesahkan penelitian, tetapi merayakan sisi menyenangkan dari sains. Sebagian besar penelitian adalah pekerjaan tanpa pamrih yang dilakukan karena passion, dan ini juga cara untuk mempopulerkannya," kata Kumar.

Tahun ini, selain penelitian tentang sepatu yang bau, para pemenang lainnya termasuk ilmuwan Jepang yang mengecat sapi untuk mengusir lalat, kadal pelangi di Togo yang menyukai pizza empat keju, dan dokter anak di AS yang menemukan bahwa bawang membuat ASI lebih disukai bayi.

Selain itu, ada juga peneliti dari Belanda yang menemukan bahwa alkohol dapat meningkatkan kemampuan bahasa asing. Penemuan-penemuan ini menunjukkan betapa beragam dan kreatifnya penelitian yang dilakukan di berbagai bidang.

Advertisement

Infografis Eksistensi Sepatu Lokal di Tanah Air. (Liputan6.com/Triyasni)

Berita Terbaru
  • Pemukul Polisi saat Demo di Mamuju Ditangkap, Aktor Intelektual Diburu
  • KemenPANRB Jajaki Kerja Sama dengan Estonia untuk Percepat Transformasi Digital Pemerintahan
  • Strategi Pengusaha Bali Genjot Usaha di Tengah Pelemahan Rupiah
  • Mendagri dan Menteri PKP Tinjau Program Bedah Rumah di Bantul, Targetkan Perbatasan
  • Undip Gelar Konferensi Internasional ICOSEG 2026 Bahas Konferensi Pembangunan Berkelanjutan Global
  • berita update
  • konten ai
  • lifestyle
  • sepatu
  • solusi sepatu bau
Artikel ini ditulis oleh
Editor Dani Mardanih
S
Reporter Sabrina Aulia Putri, Dinny Mutiah
Disclaimer

Artikel ini dihasilkan oleh AI berdasarkan data yang ada. Gunakan sebagai referensi awal dan selalu pastikan untuk memverifikasi informasi lebih lanjut sebelum mengambil keputusan.

Berita Terpopuler

Berita Terpopuler

Advertisement
Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.