Bukan Hamas, Eks Sandera Ungkap Ketakutan Terbesarnya saat Ditawan di Gaza Adalah Bom Israel
Eks sandera mengungkapkan bahwa ia ketakutan dengan bom Israel yang membombardir Gaza tanpa ampun.
Genosida yang dilakukan Israel di Gaza terus berlangsung. Semakin hari, serangan Israel semakin menggila.
Pada Maret 2025 lalu, Israel juga telah mengakhiri secara sepihak gencatan senjata dengan Hamas yang telah dimulai sejak Januari 2025. Informasi dari Kementerian Kesehatan Gaza, sejak Selasa 18 Maret 2025, Israel telah membunuh sedikitnya 3.785 warga Palestina di Gaza.
Dengan demikian, total warga Palestina yang meninggal dunia akibat genosida Israel sejak Oktober 2023 lalu hingga kini diperkirakan lebih dari 53.939 orang. Kebanyakan adalah wanita dan anak-anak.
Kesaksian pun datang dari tentara Israel yang pernah disandera Hamas di Gaza beberapa waktu soal bombardir Israel yang tak pandang bulu di Gaza. Dia bahkan sampai mengakui ketakutan terbesarnya saat disandera di Gaza bukanlah Hamas yang notabene memperlakukan para sandera dengan manusiawi.
Ketakutan terbesarnya adalah bom-bom Israel yang terus menerus dijatuhkan di Gaza. Simak kesaksian selengkapnya.
Kesaksian Eks Sandera di Gaza soal Bom Israel Gencar Dijatuhkan di Gaza
Naama Levy, salah satu dari lima tentara wanita IDF yang dibebaskan Hamas dalam kesepakatan gencatan senjata pada bulan Januari, mengaku sangat ketakutan saat ditawan di Gaza. Namun, dia tak takut pada Hamas, melainkan kepada pesawat-pesawat tempur Israel yang terus menerus menjatuhkan bom di Gaza.
Hal itu dikatakannya kepada sekitar 1.500 demonstran anti-pemerintah yang menuntut gencatan senjata untuk membebaskan tawanan Israel yang ditawan Hamas di Gaza,
Ada sekitar 58 orang Israel ditawan di Gaza dari 251 orang yang dibawa Hamas saat menyerbu Israel, 7 Oktober 2023 lalu. Salah satunya adalah Levy. Ia dibebaskan pada kesepakatan gencatan senjata yang dilakukan pada Januari lalu.
Ia mengatakan jika sangat ketakutan dengan suara ledakan yang didengar dengan telinganya sendiri. Ledakan itu sangat keras dan Levy mengibaratkan dengan kata bumi yang berguncang.
“Setiap kali saya diyakinkan bahwa saya sudah selesai, dan itulah yang membuat saya dalam bahaya terbesar: salah satu pemboman merobohkan sebagian rumah tempat saya berada,” katanya dikutip dari times of israel, Selasa (27/5/2025).
Levy menambahkan jika ia tidak punya tempat untuk lari ketika siulan datang dan kemudian dilanjutkan dengan ledakan yang besar. Ia tidak berdaya di tengah badai bom yang dijatuhkan jet-jet tempur Israel yang mengerikan.
“Pada saat ini, ada sandera yang mendengar siulan dan ledakan yang sama, gemetar ketakutan. Mereka tidak punya tempat untuk lari, mereka hanya bisa berdoa dan berpegangan pada tembok sambil merasakan ketidakberdayaan yang mengerikan.” terangnya.
Lebih lanjut Levy menceritakan pernah mengalami kesulitan makan dan minum saat ditawan. Beruntung, saat itu hujan turun, dan pejuang Hamas menaruh panci di luar untuk menadah air hujan.
“Saya minum air hujan itu, yang cukup untuk sepanci nasi. Itulah yang membuat saya terus bertahan,” katanya.
Serangan Israel ke Gaza Usai Gencatan Senjata
Sampai Senin (26/5/2025) kemarin, Israel masih melakukan berbagai serangan udara ke Gaza. Sedikitnya, ada 52 orang tewas dalam serangan tersebut. Sekitar 33 korban tewas dalam serangan yang mengenai sekolah yang dialihfungsikan menjadi tempat penampungan pengungsi.
Berbagai serangan itu dilakukan oleh Israel sejak mereka mengakhiri secara sepihak gencatan senjata sejak 18 Maret 2025 lalu. Saat itu, Israel melakukan serangan dengan kekuatan militer yang lebih besar ke Gaza.
Mereka berdalih membombardir Gaza untuk menyasar sejumlah target milisi Hamas. Serangan-serangan itu telah membuat Israel melanggar kesepakatan perjanjian gencatan senjata pada Januari lalu.
Mereka bersikukuh ingin melanjutkan gencatan senjata tahap pertama ke tahap kedua dengan pembebasan lebih banyak sandera. Namun, di sisi lain, mereka menolak untuk meninggalkan Gaza seperti yang diisyaratkan dalam gencatan senjata tahap kedua.
Tak cuma itu, dalam pembicaraan di Doha, Qatar, belakangan ini, Israel juga bersikukuh gencatan senjata bisa dicapai jika Hamas menyerahkan senjata, sesuatu yang amat berisiko bagi Hamas karena Israel telah berkali-kali mengingkari janji.
Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola oleh Hamas menyebutkan jika sedikitnya ada 3.785 orang tewas akibat berbagai serangan yang dilakukan oleh Israel ke Gaza.
Adapun total jumlah korban tewas akibat perang Gaza sejauh ini telah mencapai angka yang fantastis yaitu lebih dari 53.939 orang. Sebagian besar korban yang meninggal adalah warga sipil wanita dan anak-anak.