Atap Sekolah di Sragen Ambruk Hingga 8 Siswa Luka, Dibangun di Zaman Soeharto Terakhir Direnovasi Awal Reformasi,
Peristiwa itu terjadi di sekolah yang berada di Kecamatan Sambungmacan, wilayah perbatasan Kabupaten Sragen dengan Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
Peristiwa mengejutkan terjadi di dunia pendidikan Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Atap salah satu ruang kelas di MTs Muhammadiyah 4 Bulu roboh saat kegiatan belajar mengajar berlangsung pada Selasa (12/5). Akibat kejadian tersebut, sedikitnya delapan orang terdiri dari tujuh siswa dan satu guru mengalami luka-luka setelah tertimpa material bangunan.
Sekretaris Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sragen, Wawan Suranto, membenarkan insiden ambruknya ruang kelas tersebut.
"Benar, kejadian tersebut memang ada. Saat ini kami sedang melakukan pengecekan," ujar Wawan.
Peristiwa itu terjadi di sekolah yang berada di Kecamatan Sambungmacan, wilayah perbatasan Kabupaten Sragen dengan Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
Bangunan Roboh saat Pelajaran Bahasa Inggris Berlangsung
Wakil Kepala MTs Muhammadiyah 4 Bulu, Cipto Waluyo, menjelaskan atap ruang kelas ambruk ketika proses pembelajaran jam pertama sedang berlangsung.
Saat kejadian, para siswa tengah mengikuti pelajaran Bahasa Inggris yang diajar oleh guru mereka, Nurul Eka Ismiyati.
"Jadi tidak ada tanda-tanda khusus sebelum bangunan roboh. Para siswa juga sedang fokus mengikuti pelajaran Bahasa Inggris. Tiba tiba roboh saja, jadi tidak sempat menyelamatkan diri," ungkapnya.
Insiden mendadak itu membuat suasana kelas panik. Para siswa dan guru yang berada di dalam ruangan tidak memiliki cukup waktu untuk menghindar sebelum material bangunan jatuh menimpa mereka.
Polisi Sebut Bangunan Sudah 26 Tahun Tak Direnovasi
Kapolres Polres Sragen AKBP Dewiana Syamsu Indyasari turun langsung meninjau lokasi kejadian. Berdasarkan temuan awal, bangunan sekolah tersebut diketahui sudah cukup lama tidak mengalami renovasi.
Menurut Kapolres, gedung sekolah dibangun pada tahun 1978 dan terakhir direnovasi pada tahun 2000.
"Artinya sudah 26 tahun bangunan ini berdiri tanpa renovasi lagi. Kalau dilihat tadi, bagian atapnya memang sudah lapuk semua. Inilah yang diambil tim Satreskrim sebagai barang bukti untuk penyelidikan lebih lanjut," ungkap AKBP Dewiana.
Hingga kini, penyebab pasti robohnya atap masih dalam penyelidikan. Pihak Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sragen bersama aparat terkait masih melakukan investigasi dan pendataan setelah proses evakuasi selesai dilakukan.
Siswa Dipulangkan untuk Pemulihan Trauma
Pasca kejadian, Kapolres meminta pihak sekolah memulangkan seluruh siswa guna menjaga kondisi psikologis mereka setelah menyaksikan insiden tersebut secara langsung.
Menurut Dewiana, langkah itu bukan hanya untuk menjaga status quo tempat kejadian perkara, tetapi juga demi pemulihan mental para siswa.
"Anak-anak pasti shock dan trauma melihat kejadian itu di depan mata mereka. Biarkan mereka istirahat di rumah dulu untuk memulihkan kondisi psikisnya," tuturnya.
Sementara itu, delapan korban yang mengalami luka-luka masih menjalani perawatan di rumah sakit. Polisi memastikan akan terus memantau perkembangan kondisi para korban.
"Kami sudah berkomunikasi dengan pihak Yayasan. Mereka menyatakan akan bertanggung jawab penuh terhadap seluruh biaya pengobatan para korban," tambahnya.