Kenapa Beberapa Jenis Burung Punya Suara Lebih Keras?
Apakah suara burung merupakan faktor utama yang mendukung kelangsungan hidup mereka?
Burung memiliki variasi yang signifikan tidak hanya dalam cara mereka berkicau, tetapi juga dalam tingkat kebisingan suara yang dihasilkan.
Sebuah studi global terbaru yang dipublikasikan dalam Philosophical Transactions of the Royal Society B, yang merupakan salah satu jurnal tertua dan paling terkemuka di dunia, telah mengungkapkan informasi menarik mengenai perbedaan volume kicauan dari 170 spesies burung di seluruh dunia, sebagaimana dilansir oleh laman Rare Bird Alert pada Selasa (5/8).
Penelitian ini dipimpin oleh Henrik Brumm, seorang ahli bioakustik, beserta timnya, dan merupakan analisis komparatif berskala besar yang pertama kali mengenai kekuatan suara (amplitudo) kicauan burung.
Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kebisingan kicauan burung tidak bersifat acak, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor fisik, adaptasi perilaku, serta tekanan dari lingkungan sekitar.
Burung yang bersuara paling nyaring
Beberapa burung dari keluarga Thraupidae (tanagers), Icteridae (blackbird Dunia Baru), dan suboscine tertentu telah tercatat sebagai penghasil kicauan yang sangat keras, bahkan dapat mencapai lebih dari 100 desibel SPL, yang setara dengan suara gergaji mesin.
Sementara itu, mayoritas burung passerine kecil menghasilkan kicauan dengan intensitas di bawah 80 dB SPL. Menarik untuk dicatat bahwa ukuran tubuh burung tidak selalu menjadi penentu seberapa keras suara yang dihasilkan.
Terdapat beberapa spesies kecil yang justru mampu mengeluarkan suara jauh lebih keras daripada yang diperkirakan. Selain ukuran tubuh, faktor lain seperti bentuk paruh, jenis lagu, dan fungsi sosial dari kicauan juga memiliki pengaruh yang signifikan.
Burung yang memanfaatkan suara untuk komunikasi jarak jauh atau menandai wilayah cenderung berkicau dengan volume yang lebih tinggi. Meskipun berkicau keras memiliki manfaat, hal itu tidak selalu berarti aman.
Suara yang keras dapat menarik perhatian predator, mengharuskan burung untuk mengeluarkan lebih banyak energi, atau bahkan mengurangi kontrol vokal. Untuk mengatasi hal ini, beberapa spesies burung mengubah postur atau teknik pernapasan saat berkicau.
Dalam satu spesies pun, volume suara dapat bervariasi tergantung pada konteks. Misalnya, di lingkungan perkotaan yang bising, burung sering kali berkicau lebih keras, sebuah fenomena yang dikenal sebagai efek Lombard.
Namun, penelitian juga menunjukkan adanya perbedaan dasar dalam volume antar individu yang dipengaruhi oleh faktor bawaan hingga perilaku.
Suara burung memiliki volume yang bervariasi
Temuan ini menyoroti betapa pentingnya memperhatikan amplitudo dalam kajian komunikasi burung. Kicauan yang lebih keras dapat lebih efektif dalam menarik perhatian pasangan atau mengusir pesaing, namun di sisi lain, hal ini juga meningkatkan risiko terdengar oleh predator.
Situasi ini menghasilkan "strategi volume" yang bervariasi dan berevolusi sesuai dengan kondisi ekologi yang ada. Selain itu, penelitian ini mengajak para peneliti lainnya untuk menerapkan pengukuran volume yang telah dikalibrasi dalam analisis suara burung.
Amplitudo, yang sebelumnya kurang mendapat perhatian, kini diakui sebagai elemen krusial dalam memahami evolusi suara serta perilaku burung secara lebih komprehensif.