Ini Alasan UMKM Perlu Adopsi Teknologi
UMKM sebagai pilar utama sekaligus motor penggerak ekonomi digital Indonesia.
Di tengah arus perubahan global yang ditandai oleh percepatan adopsi teknologi dan disrupsi digital, Exabytes Indonesia menegaskan kembali komitmennya sebagai katalis transformasi ekonomi nasional melalui penyelenggaraan SME DigitalFest 2025, yang mengusung tema “Nadi Digital UMKM: Akselerasi Inovasi & AI-Ready.”
Indra Hartawan, VP & Country Manager Exabytes Indonesia mengatakan, tema “Nadi Digital UMKM” merepresentasikan semangat baru pelaku usaha nasional untuk menjadikan inovasi, teknologi, dan konektivitas sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
“Akselerasi Inovasi” menandai komitmen untuk tidak sekadar beradaptasi terhadap perubahan, melainkan memimpin arah transformasi. Sementara “AI-Ready” menjadi simbol kesiapan UMKM menghadapi babak baru ekonomi digital, di mana efisiensi, data, dan kecerdasan buatan menjadi sumber daya strategis.
“Membantu UMKM naik kelas dan memastikan toko Anda bukan sekadar tempat dilihat, tapi juga tempat terjadinya transaksi nyata di dunia digital” ujar Indra dalam keterangannya, Selasa (28/10).
Menurut data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (2025), Indonesia memiliki lebih dari 64 juta UMKM yang berkontribusi 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap 97 persen tenaga kerja nasional.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,03 persen (c-to-c) pada 2024, bukti resiliensi ekonomi nasional di tengah dinamika global.
Angka ini menegaskan peran UMKM sebagai pilar utama sekaligus motor penggerak ekonomi digital Indonesia.
Oleh sebab itu, dalam panel diskusi bertajuk Why Digitalization is Non-Negotiable for SMEs in 2025, Haykal Kamil, Co-Founder & CEO Kals menyebut untuk bisa terus tumbuh, maka digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan strategis bagi keberlangsungan bisnis.
"UMKM yang tidak beradaptasi dengan digitalisasi berisiko kehilangan relevansi. Dunia berubah cepat, bukan hanya bagaimana kita menjual, tapi bagaimana kita berpikir tentang pelanggan,” ujar Haykal.