Mengenal COPD, Penyakit yang Diderita Bos Djarum Michael Bambang Hartono
Michael Bambang Hartono,bos Djarum, pernah menderita COPD dan mengalami serangan jantung selama hidupnya.
Bos Djarum Michael Bambang Hartono meninggal dunia pada usia 86 tahun. Ia menghembuskan napas terakhir pada Kamis, 19 Maret 2026, di Singapura.
"Keluarga Besar PT Djarum berduka cita mendalam atas wafatnya Pimpinan Kami, Pak Michael Bambang Hartono, Kamis 19 Maret 2026 pukul 13.15 waktu Singapura," ungkap Corporate Communication Senior Manager Grup Djarum, Budi Darmawan, kepada Liputan6.com.
Saat ini, belum ada informasi lebih lanjut mengenai penyebab kematiannya. Namun, selama hidupnya, Bambang Hartono diketahui pernah mengalami penyakit COPD dan serangan jantung.
"Sakit? COPD, itu penyakit paru. Sama pernah dapat serangan jantung sekali," ungkap Bambang Hartono saat menjawab pertanyaan pegiat tai chi Aam Bastaman pada September 2021 yang disiarkan di Youtube. Serangan jantung yang dialaminya membuat pria yang lahir di Kudus, Jawa Tengah itu harus dipasang satu stent (ring) jantung untuk membuka pembuluh darah koroner yang tersumbat. Meskipun begitu, Bambang Hartono menganggap bahwa penyakit yang paling berat baginya adalah COPD.
"Yang berat itu COPD. Itu.... Itu karena merokok," jelasnya dalam wawancara tersebut, di mana ia sudah berhenti merokok pada saat itu.
Penyakit yang dimaksud oleh Bambang Hartono adalah Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD), yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). :strip_icc()/kly-media-production/medias/2337572/original/071817800_1534917977-20180822-Bambang-Hartono-1.jpg)
Keterbatasan Aliran Udara
Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) adalah kondisi paru-paru yang bersifat kronis dan ditandai oleh keterbatasan aliran udara serta gejala pernapasan yang berlangsung terus-menerus. Gejala ini berkaitan dengan adanya kelainan pada saluran napas dan alveoli, seperti yang dinyatakan di laman Rumah Sakit EMC. Menurut dokter spesialis paru, Salva Badjarad, individu yang mengalami PPOK dalam tahap ringan umumnya tidak menunjukkan gejala yang signifikan. Namun, seiring berjalannya waktu, PPOK dapat berkembang menjadi lebih serius dengan munculnya berbagai gejala, seperti:
- Sesak napas
- Batuk berdahak
- Terkadang disertai suara mengi
- Dalam kondisi tertentu, dapat terjadi perburukan yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi batuk, sesak napas yang parah, serta produksi dahak yang berlebihan.
- Rasa lesu dan lemas
- Kesulitan tidur
- Mudah merasa lelah.
Faktor Risiko Utama
Salva menyatakan bahwa rokok, baik yang dihisap secara langsung oleh perokok aktif maupun yang dihirup oleh perokok pasif, adalah salah satu faktor risiko utama terjadinya Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Selain itu, terdapat beberapa faktor risiko lain yang juga perlu diperhatikan, antara lain:
- Riwayat terpapar polusi udara yang mengandung partikel berbahaya dan zat-zat iritan.
- Riwayat mengalami infeksi saluran napas yang berulang, serta penyakit paru lainnya seperti asma yang juga dapat kambuh secara berkala.
- Faktor genetik, khususnya kekurangan protein Alfa-1 antitrypsin (AATD: alpha-1 antitrypsin deficiency), yang berfungsi untuk menjaga elastisitas paru-paru.
- Stres oksidatif yang dapat mempengaruhi kesehatan paru-paru.
- Proses tumbuh kembang paru yang tidak optimal, yang dapat berkontribusi terhadap masalah kesehatan paru di kemudian hari.