Dokter Ungkap Tanda Sakit Kepala yang Tak Boleh Diabaikan
Dokter bedah saraf mengingatkan benturan kepala yang menyebabkan hilang kesadaran harus diwaspadai karena bisa menandakan cedera serius.
Cedera kepala merupakan kondisi trauma pada kepala dan jaringan di sekitarnya yang dapat mengganggu fungsi saraf.
Kondisi ini umumnya terjadi akibat benturan dengan benda keras, baik karena kecelakaan, terjatuh, maupun tertimpa benda.
Dokter spesialis bedah saraf tulang belakang, Lamhot Asnir Lumbantobing, menjelaskan cedera kepala secara umum dibagi menjadi tiga kategori, yakni ringan, sedang, dan berat. Pengelompokan tersebut didasarkan pada tingkat kesadaran pasien setelah mengalami benturan.
Menurut Lamhot, cedera kepala ringan biasanya ditandai dengan sakit kepala, sempat kehilangan kesadaran dalam waktu singkat, kemudian kembali normal meski merasa mengantuk.
Sementara pada cedera kepala sedang, kondisi kesadaran pasien menurun namun masih dapat dibangunkan dengan rangsangan tertentu. Adapun cedera kepala berat ditandai dengan gangguan kesadaran yang jauh lebih serius.
“Cedera kepala berat itu ketika pasien datang dalam kondisi koma, sudah tidak memberi respons apa-apa,” kata Lamhot dikutip dari Liputan6.com, Kamis (11/6/2026).
Hilang Kesadaran Jadi Tanda Bahaya
Lamhot mengingatkan masyarakat agar tidak panik berlebihan saat mengalami benturan kepala, namun juga tidak menyepelekannya.
Menurutnya, salah satu gejala yang harus mendapat perhatian khusus adalah hilangnya kesadaran setelah benturan terjadi.
“Ini harus langsung ditangkap sebagai cedera kepala yang serius beda dengan hanya kejedot tembok,” ujarnya dalam siaran Instagram Kementerian Kesehatan yang dikutip Rabu (10/6/2026).
Ia menjelaskan tidak semua benturan kepala berujung pada kondisi berbahaya. Dalam banyak kasus, benturan ringan hanya menimbulkan nyeri pada area yang terkena dan tidak menyebabkan gangguan kesadaran.
Lansia Lebih Rentan Mengalami Komplikasi
Meski demikian, Lamhot menekankan bahwa benturan yang tampak ringan pada orang muda belum tentu aman bagi kelompok lanjut usia atau pasien dengan kondisi medis tertentu.
Menurutnya, lansia memiliki risiko lebih besar mengalami komplikasi meskipun hanya mengalami benturan ringan.
“Kejedot tembok, kejedot jendela itu juga bermakna tapi secara umum itu aman. Tapi pada kelompok usia tua, cedera kepala yang sangat ringan, yang buat kita itu tidak ada apa-apanya bagi usia tua atau pasien tertentu misalnya pasien perdarahan, itu bisa bermakna,” kata Lamhot.
Karena itu, setiap benturan kepala pada lansia maupun pasien dengan riwayat gangguan pembekuan darah perlu mendapatkan perhatian lebih dan dipantau secara ketat untuk mengantisipasi kemungkinan komplikasi yang muncul setelah kejadian.